Hukum Memakan Daging Kurban Sendiri

Hukum Memakan Daging Kurban Sendiri
sumber gambar : istock

Bagaimana hukum memakan daging kurban sendiri tanpa mensedekahkannya pada orang lain? Baca selengkapnya di artikel ini.


Berkurban adalah salah satu syariat Islam yang telah ada sejak zaman dulu dan masih dilaksanakan sampai sekarang. Walaupun begitu, masih banyak juga yang bertanya bagaimana hukum memakan daging kurban sendiri.

Dalam hal ini memang tidak ada ketentuan pasti berapa jumlah pembagian daging yang tepat, untuk dimakan sendiri dan untuk disedekahkan. Namun ada baiknya kita mensedekahkan sebagian hasil daging kurban kepada orang yang membutuhkan seperti fakir miskin dan kaum dhuafa.

Sekilas Tentang Kurban

Apa hukum memakan daging kurban sendiri? Sebelum membahas hal itu lebih lanjut mari kita bahas tentang ibadah kurbannya. Sesuai dengan sejarahnya, Allah pernah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengurbankan anaknya yaitu Nabi Ismail yang saat itu masih kecil melalui mimpi.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun sama-sama menerima perintah Allah tersebut dan melaksanakannya. Namun ketika Nabi Ismail akan disembelih Allah menggantinya dengan seekor domba.

Ketika keduanya berserah diri pada Allah ternyata kesabaran keduanya menjadi hadiah terbaik bagi keduanya dari Allah, dengan penggantian domba sehingga Nabi Ismail tidak jadi disembelih.

Dalam hal ini, Allah ingin melihat bagaimana kerelaan Nabi Ibrahim untuk mengurbankan apa yang dicintainya yaitu anaknya. Allah pun memberi balasan atas kerelaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Berkurban bisa dilakukan secara patungan misalnya untuk kurban sapi yang dapat dikolektifkan.

Jumlah orang yang berkurban dalam kurban sapi adalah maksimal 7 orang, yang dimana ketujuh orang ini boleh satu keluarga atau keluarganya sendiri, atau bisa juga orang lain, kerabat, atau teman. Semuanya tetap dianggap sah untuk kurban sapi/unta yang dapat dikolektifkan.

Syarat dan ketentuan pembagian daging kurban diuraikan seperti berikut ini:

  • Orang yang berkurban harus menyediakan hewan kurbannya dengan uang halal dan tidak boleh berhutang.
  • Harus berupa hewan ternak seperti sapi, kambing, unta, dan kerbau.
  • Hewan yang akan dikurbankan tidak boleh dalam kondisi cacat, harus sehat, tidak pincang, tidak sakit, dan bagian ekor serta kupingnya harus utuh.
  • Hewan yang akan disembelih harus sudah cukup umur yaitu umur 5 tahun lebih bagi unta, umur 2 tahun lebih bagi kerbau/sapi, dan umur 1 tahun bagi kambing/domba.
  • Orang yang melaksanakan ibadah kurban harus orang yang berakal, baligh, dan juga merdeka atau bukan budak.
  • Daging kurban dibagi menjadi tiga bagian yaitu 1/3 bagian dimakan oleh orang yang berkurban, 1/3 diberikan atau dihadiahkan pada orang lain, dan 1/3 lagi disedekahkan.

Dari pembagian 1/3 daging tersebut, muncul pertanyaan bagaimana hukum memakan daging kurban sendiri sapi atau kambing. Hukum memakan daging oleh sendiri ini juga masih menjadi perdebatan karena pendapat ulama berbeda-beda.

Hukum Memakan Daging Kurban Sendiri

Hukum Memakan Daging Kurban Sendiri
sumber gambar : istock

Apakah boleh seseorang yang berkurban memakan dagingnya sendiri dan bagaimana hukum yang mendasari itu semua? Jika hukum dari berkurbannya sunnah dan bukan termasuk nazar maka bagi orang yang berkurban hukum memakan daging sendiri termasuk sunnah.

Lebih tepatnya yaitu, sunnah memakan daging satu suap, dua suap, hingga tiga suap. Hal ini bertujuan untuk mencari berkah atau yang disebut dengan tabarruk.

Orang yang berkurban juga boleh memberi makan pada orang yang dianggap kaya, dan wajib untuk mensedekahkan daging kurban tersebut. Penerima sedekah kurban yang paling afdol adalah mensedekahkan semua bagian dagingnya, kecuali yang ia makan yang termasuk sunnah.

Apabila orang yang berkurban ini mengumpulkan antara memakan sendiri, mensedekahkan atau menghadiahkan pada orang lain, maka hukum memakan daging kurban sendiri baginya adalah sunnah tetapi dengan jumlah tak lebih 1/3 serta tidak mensedekahkan daging kurang dari 1/3.

Kulit hewan kurbannya pun disunnahkan untuk disedekahkan, dan tidak boleh diperjualbelikan atau diolah kembali menjadi suatu benda atau menyewakannya.

Bagian atau Jatah Bagi yang Berkurban

Bagian atau Jatah Bagi yang Berkurban
sumber gambar : istock

Jika sudah diketahui bahwa hukum berkurban ini adalah Sunnah Muakad, maka hukum memakan daging kurban sendiri juga dianggap sunnah tetapi jumlah pembagiannya harus tepat dan adil. Namun lebih dianjurkan untuk mensedekahkan sebagian dagingnya pada orang yang membutuhkan.

Tapi orang yang berkurban pun diperbolehkan untuk memakan atau mengkonsumsi daging kurbannya, bahkan disunnahkan. Namun harus dengan jumlah maksimal yang dimakan oleh orang yang berkurban tersebut.

Berikut ini bagian atau jatah bagi yang berkuran dan penjelasannya lengkap:

  • Jatah Daging Kurban 1/3

Seseorang yang melaksanakan ibadah kurban dianjurkan untuk memakan dagingnya dengan batas maksimal 1/3 atau boleh kurang dari itu, tetapi tidak boleh lebih banyak atau melebihi dari jumlah 1/3 tersebut.

Dijelaskan juga bahwa seseorang yang berkurban tidak boleh menjual daging kurbannya atau bagian tubuh lainnya dari hewan yang dikurbankan, sehingga jatah 1/3 ini hanya boleh dikonsumsi saja.

  • Sebagian Disedekahkan

Dari Mahzab Syafi’I pun menjelaskan bahwa orang yang berkurban boleh mengkonsumsi semua bagian daging kurban, tetapi sebagian kecilnya tetap harus disedekahkan kepada fakir miskin.

Tujuan dari ibadah kurban itu sendiri adalah untuk mengalirkan darah hewan kurban dan wujud dari belas kasih pada orang-orang yang membutuhkan seperti dhuafa atau fakir miskin.

Dengan memberikan sebagian daging kurban kepada fakir miskin maka hal itu menjadi sesuatu yang sangat baik.

  • Satu Hingga Tiga Suap Daging

Hal yang paling utama dalam hukum memakan daging kurban sendiri sebagian adalah mensedekahkannya kepada fakir miskin, yaitu keseluruhan bagian daging kurban dengan satu suap daging sebagai niat untuk mengharapkan berkah dari daging tersebut.

Bagian yang paling dikehendakinya adalah hati, yang dimana saat seseorang berkurban dan mengkonsumsinya adalah untuk mendapat keberkahan dari daging tersebut. Kemudian sisanya disedekahkan atau diberikan pada kaum dhuafa.

Laksanakan Ibadah Kurban di Yatim Mandiri

Kurban di Yatim Mandiri
sumber gambar : yatim mandiri

Berkurban bisa di mana saja yang penting diawali dengan niat yang baik, tapi ada baiknya jika berkurban di tempat yang tepat dengan proses pemilihan hewan, penyembelihan, hingga pembagiannya dilakukan dengan tepat dan sesuai syariat Islam.

Pelaksanaan ibadah kurban yang baik adalah di Yatim Mandiri sebagai penyalur kurban terbaik. Harga hewan kurban di sana juga sangat terjangkau dan bisa dipilih sesuai paket yang ada. Ditambah lagi dengan banyaknya program kurban yang menguntungkan dan bermanfaat bagi yang berkurban.

Yatim Mandiri mengajak seluruh masyarakat untuk menjalankan ibadah kurban dengan memanfaatkan program yang ada di sana. Program ini dilaksanakan setiap tahunnya dengan mengusung program unggulan yaitu Super Gizi Qurban.

Program yang satu ini merupakan inovasi terbaik dengan mengoptimasi daging kurban yang telah diolah menjadi kemasan kalengan. Produk daging kurban di Yatim Mandiri ini diolah kembali menjadi beragam makanan seperti kare, kornet dan juga sosis siap saji.

Tujuannya adalah supaya penyaluran daging kurban yang dilakukan di Yatim Mandiri merata dan meluas, terutama bagi penerima manfaat yang memerlukan daging tersebut. Bahkan perluasannya hingga ke luar negeri yaitu sampai ke Palestina dan juga Afrika.

Manfaat Berkurban Dalam Islam

Idul Adha dan juga Idul Fitri adalah dua hari raya besar umat Islam yang paling ditunggu-tunggu. Ibadah khusus di hari tersebut memang memberi kesan tersendiri bagi seluruh umat Islam. Untuk Idul Adha orang-orang menyembelih hewan kemudian dibagikan kepada sesama.

Hukum memakan daging kurban sendiri sepertiganya adalah untuk dimakan sendiri dan untuk dibagikan. Lalu apa saja manfaat dari berkurban di dalam Islam, berikut penuturan lengkapnya:

  • Mendekatkan Diri Kepada Allah

Setiap amal shaleh dan juga ibadah yang dilakukan adalah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Tak hanya menjadi sebuah amal kebaikan saja tapi juga akan menaungi umat muslim ketika di hari akhir atau alam barzah nanti.

Kata kurban berasal dari kata Qariba, Qurban, atau Yaqrabu dalam Bahasa Arab. Artinya adalah dekat yang makna lainnya adalah mendekatkan diri hanya kepada Allah. Maka hakikat dalam berkurban ini adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ketika kita lebih dekat dengan Allah maka segala yang diperintahkan olehNya dapat dikerjakan tanpa beban.

  • Bentuk Ketaatan Pada Allah

Selain bentuk pendekatan diri kita kepada Allah, manfaat lainnya dari berkurban juga menjadi bentuk taat kita kepadaNya. Sesuai dengan yang tercantum di dalam Al Quran Surat Al Hajj, bahwa Allah memerintahkan umatNya untuk melakukan penyembelihan kurban.

Supaya mereka menyebut nama Allah dari rezeki yang sudah dikaruniakan oleh Allah pada mereka yang berupa hewan ternak, untuk dikurbankan. Artinya manusia berserah kepada Allah, tunduk dan patuh, dengan melaksanakan ibadah kurban tersebut.

Melaksanakan ibadah ini juga berarti sebuah ketaatan pada Allah SWT. Taat kepada Allah bisa diaplikasikan dalam segala bentuk ibadah, dan ibadah kurban menjadi salah satunya. Taat dan takwa kepada Allah berkaitan dengan kerelaan dalam berkurban.

  • Bentuk Syukur

Berkurban juga merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang sudah Allah berikan. Tak hanya sebagai ritual dalam beribadah saja, tetapi bentuk syukur ini juga diterapkan dalam ibadah kurban.

Berkurban juga merupakan bentuk kepedulian sosial pada sesama karena kita membagikan daging kurban kepada sesama. Daging dari hewan kurban yang disembelih, dibagikan kepada masyarakat sekitar di suatu lingkungan.

Jika kita bersyukur pada Allah akan senantiasa menambah nikmatnya, maka berkurbanlan.

  • Menjauhkan Diri dari Sikap Tamak

Berkurban tak hanya dilakukan oleh orang yang mampu saja karena banyak juga orang yang tidak mampu secara finansial, tetapi melaksanakan ibadah kurban dengan menabung dan sesuai dengan kemampuannya.

Banyak orang yang jumlah penghasilannya setiap bulan masih minim tetapi rela berikhtiar dengan menabung atau menyisihkan penghasilannya untuk berkurban. Namun banyak juga orang yang berkecukupan secara finansial atau dari segi materi tapi tidak berkurban.

Artinya siapa saja bisa berkurban jika dimulai dengan niat yang teguh, karena kurban bisa menjauhkan diri dari sikap tamak di dalam diri. Kerelaan kita dalam mengumpulkan uang untuk berkurban juga menjadi salah satu kesungguhan dalam bertakwa kepada Allah.

Seperti yang tercantum di dalam HR Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim, bagi siapapun yang memiliki kelapangan dan keluasan rezeki tapi tidak melaksanakan kurban maka jangan mendekati tempat kami shalat.

Hal itu menegaskan bahwa lakukanlah ibadah kurban terlepas dari ada tidak adanya dana, karena semuanya masih bisa dijalankan dengan ikhtiar menabung.

Dari hukum memakan daging kurban sendiri dan ketentuan pembagian daging kurban sebanyak 1/3, jelaslah sudah bahwa keutamaan dalam berkurban juga tentang sedekah pada orang-orang yang membutuhkan seperti fakir miskin.

 

Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/rcpgge456/yatim-mandiri-ajak-masyarakat-ikut-program-qurban-1443-h

https://infakyatim.id/inspirasi/empat-manfaat-berkurban

https://www.kompas.tv/article/194043/bolehkah-memakan-daging-kurban-sendiri-berikut-hukumnya?page=all#:~:text=Lalu%2C%20apakah%20boleh%20orang%20berkurban,%2C%20dua%2C%20atau%20tiga%20suap.

https://m.oase.id/read/wL250W-idul-adha-berapa-jumlah-daging-yang-bisa-dikonsumsi-seseorang-yang-berkurban#:~:text=Dalam%20kitab%20Fathul%20Qarib%20tentang,jatah%20sepertiga%20itu%20hanya%20untuk

Ika Faztin
Nasibmu telah ditulis dengan tinta cinta-Nya dan disegel dengan rahmat-Nya jadi jangan takut, percayakan dirimu kepada-Nya dan berharaplah pada ketetapan-Nya - Gems of Jannah.