Tradisi Idul Adha di Berbagai Wilayah Indonesia, Unik!

Setiap tradisi membawa makna dan keunikan tersendiri. Apa saja tradisi Idul Adha di berbagai wilayah Indonesia? Coba cek di sini, yuk!

Indonesia terkenal kaya akan keragaman budaya. Jadi, tak heran jika banyak tradisi Idul Adha di berbagai wilayah Indonesia.

Ya, banyaknya budaya di Indonesia menimbulkan tradisi idul Adha yang berbeda-beda di setiap wilayahnya.

Misalnya saja, di Madura terdapat tradisi yang bernama toron dan nyalasi. Pertanyaannya, budaya apakah itu?

Untuk tahu lebih lanjut mengenai tradisi-tradisi Idul Adha yang ada di Madura dan berbagai wilayah lain di Indonesia, baca artikel ini sampai habis, ya!

Tradisi Idul Adha di Berbagai Wilayah Indonesia

Seperti semboyan negara, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, berikut keragaman tradisi idul Adha di berbagai wilayah Indonesia

1. Gamelan Sekaten Surakarta

Surakarta yang berada di Jawa Tengah, memiliki tradisi Idul Adha dengan nama Gamelan Sekaten. 

Gamelan Sekaten adalah salah satu bentuk seni tradisional yang memainkan gamelan, seperangkat alat musik Jawa yang terbuat dari perunggu atau besi, dengan melodi yang kaya dan kompleks. 

Tradisi ini sebenarnya lebih sering dikaitkan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, namun dalam beberapa kesempatan juga dapat ditemukan pada perayaan Idul Adha. Gamelan Sekaten dimainkan di keraton atau istana Surakarta.

Para pemain gamelan mengenakan pakaian tradisional Jawa, menciptakan suasana yang sakral dan penuh sisi kebudayaan. 

2. Toron dan Nyalasi Madura

Ada yang menarik dengan tradisi Idul Adha di Madura yang dirayakan dengan dua kegiatan utama: Toron dan Nyalasi. Toron sendiri merupakan tradisi mudik yang dilakukan oleh masyarakat Madura. 

Pada hari-hari menjelang Idul Adha, perantau Madura yang tinggal di luar pulau akan kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan hari besar bersama keluarga. Mudik ini adalah momen penting untuk berkumpul.

Setelah kembali ke kampung halaman, tradisi Nyalasi dilakukan. Nyalasi adalah prosesi penyembelihan hewan kurban yang diadakan di halaman rumah atau masjid. 

Daging kurban kemudian dimasak menjadi berbagai hidangan khas Madura, seperti sate kambing dan gulai kambing.

Selanjutnya, daging yang sudah dimasak dinikmati bersama keluarga dan tetangga. Nyalasi juga mencerminkan rasa syukur dan kebersamaan, serta semangat berbagi dengan sesama. 

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana Idul Adha di Madura tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai perayaan budaya yang penuh makna dan kehangatan.

3. Meugang Aceh

Tradisi Idul Adha di berbagai wilayah Indonesia selanjutnya ada di Aceh, bernama Meugang.  Meugang dilaksanakan sehari atau dua hari sebelum Idul Adha, di mana masyarakat Aceh akan menyembelih hewan seperti sapi atau kambing untuk dimasak menjadi hidangan istimewa.

Daging tersebut biasanya dimasak menjadi berbagai masakan khas Aceh, seperti rendang, kari, dan dendeng. 

Meugang adalah waktu yang sangat dinanti-nanti karena menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul dan menikmati makanan bersama-sama.

Selain itu, masyarakat juga membagikan daging kepada tetangga dan warga yang kurang mampu, Kegiatan ini biasanya diiringi dengan pasar meugang, di yang mana para pedagang banyak menjual berbagai bahan masakan dan bumbu.

 4. Grebek Gunungan Yogyakarta

Selanjutnya, ada tradisi Grebek Gunungan di Yogyakarta yang menjadi salah satu cara khas merayakan Idul Adha. 

Grebek Gunungan merupakan upacara adat yang melibatkan arak-arakan gunungan, yaitu susunan hasil bumi yang berbentuk kerucut.

Gunungan dibuat dari sayuran, buah-buahan, dan makanan lainnya. Gunungan ini diarak dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gede Kauman dengan diiringi oleh pasukan prajurit keraton.

Upacara ini dimulai dengan prosesi doa dan dilanjutkan dengan pembagian hasil bumi kepada masyarakat.

Nah, masyarakat yang hadir akan berebut untuk mendapatkan bagian dari gunungan, yang diyakini membawa berkah dan keberuntungan. Tradisi ini mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan melambangkan keberlimpahan serta kesejahteraan. 

5. Apitan Semarang

Selain Yogyakarta, Semarang juga punya tradisi Apitan. Apitan Semarang merupakan salah satu tradisi Idul Adha di berbagai wilayah Indonesia. 

Biasanya Apitan dilakukan sebelum perayaan Idul Adha. Apitan adalah tradisi sedekah bumi yang diadakan oleh masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen. 

Tradisi ini biasanya diadakan pada bulan Dzulhijjah, bertepatan dengan waktu Idul Adha. Kegiatan Apitan diisi dengan berbagai ritual adat, termasuk arak-arakan hasil bumi yang dihias indah, doa bersama, dan pembagian makanan kepada masyarakat. 

Masyarakat percaya bahwa tradisi ini akan membawa berkah dan menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. 

6. Manten Sapi Pasuruan

Di Pasuruan, Jawa Timur, ada tradisi unik saat Idul Adha yang dikenal sebagai Manten Sapi. Tradisi ini merupakan bagian dari perayaan Idul Adha yang melibatkan upacara adat “pernikahan” sapi sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur. 

Manten Sapi dilakukan dengan cara menghias sepasang sapi dengan pakaian pengantin, lengkap dengan kalung melati. 

Unik sekali bukan? Prosesi ini biasanya diiringi dengan musik tradisional dan diikuti oleh masyarakat sekitar.

Manten Sapi diawali dengan ritual khusus yang melibatkan pemimpin adat dan tokoh masyarakat, yang mendoakan keselamatan dan kesejahteraan. 

Setelah itu, sepasang sapi yang telah dihias diarak keliling desa sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan.

7. Mepe Kasur Banyuwangi

Ada yang unik di Banyuwangi, Jawa Timur ketika Idul Adha, yaitu Mepe Kasur. Tradisi ini biasanya dilakukan sehari sebelum Idul Adha. 

Mepe Kasur secara harfiah berarti “menjemur kasur.” Pada hari tersebut, masyarakat Banyuwangi akan mengeluarkan kasur-kasur dari dalam rumah.

Masyarakat Banyuwangi kemudian menjemurnya di halaman atau pekarangan. Kasur-kasur ini biasanya berwarna merah dengan motif khas Banyuwangi. 

Mepe Kasur dilakukan sebagai simbol membersihkan diri dan lingkungan sebelum merayakan hari besar Idul Adha. 

Kasur yang dijemur dipercaya akan terhindar dari kotoran dan kutu, melambangkan pembersihan dari segala dosa dan keburukan. 

Setelah kasur-kasur dijemur, biasanya diadakan doa bersama dan kegiatan bersih-bersih di lingkungan sekitar. 

Tradisi Mepe Kasur menunjukkan betapa pentingnya kebersihan dan kesucian dalam menyambut hari raya, serta nilai gotong royong yang masih kuat di masyarakat Banyuwangi.

8. Accera Kalompoang Gowa

Tradisi Idul Adha di berbagai wilayah Indonesia selanjutnya adalah Accera Kalompoang yang merupakan bagian dari perayaan Idul Adha di Gowa, Sulawesi Selatan. Tradisi ini sudah dilakukan sejak lama.

Tradisi ini merupakan upacara adat yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa untuk membersihkan benda-benda pusaka kerajaan. Accera Kalompoang secara harfiah berarti “membersihkan pusaka.”

Selama upacara ini, berbagai benda pusaka kerajaan seperti kalompoang (mahkota), senjata tradisional, dan benda-benda bersejarah lainnya dibersihkan secara ritual di Balla Lompoa, yang merupakan rumah adat Kerajaan Gowa. 

Prosesi ini dipimpin oleh para pemangku adat dan disaksikan oleh masyarakat serta keturunan kerajaan. 

Upacara Accera Kalompoang dimulai dengan pembacaan doa-doa dan mantera-mantera khusus untuk memohon keselamatan dan keberkahan. 

Setelah itu, benda-benda pusaka tersebut dicuci dengan air suci yang dicampur dengan berbagai ramuan tradisional. 

Proses pembersihan ini dilakukan dengan penuh kehormatan dan khidmat, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan peninggalan sejarah.

9. Ngejot Bali

Ngejot menjadi salah satu momen penting dalam budaya Bali, karena menjunjung nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan penghormatan terhadap tradisi dan leluhur yang sangat dijunjung tinggi. 

Ngejot Bali sebenarnya tidak hanya dilakukan saat Idul Adha saja, namun juga perayaan hari keagamaan lainnya seperti Idul Fitri, Nyepi, Galungan dan sebagainya.

Ngejot sendiri merupakan tradisi dengan saling berbagi hidangan khusus kepada tetangga. Setelah hewan kurban disembelih, dagingnya kemudian diolah menjadi hidangan lezat, seperti sate, gulai, atau rendang. 

Kemudian, hidangan tersebut dibungkus dan dibawa ke rumah-rumah tetangga sebagai bentuk penghormatan dan berbagi kebahagiaan dalam perayaan Idul Adha.

Tradisi Ngejot tidak hanya sekadar memberi makanan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar tetangga dan meningkatkan rasa persaudaraan dalam masyarakat Bali. 

10. Kaul Negeri & Abda’u Maluku Tengah

Terakhir, ada tradisi Kaul Negeri dan Abda’u yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Tulehu, Maluku Tengah. Diketahui bahwa tradisi ini sudah ada sejak abad ke-17. 

Masyarakat akan menyembelih satu kambing, sebagai inti acara sementara dua lainnya menjadi pendamping. 

Sebelum prosesi penyembelihan dimulai, ketiga kambing tersebut diarak keliling kampung untuk kemudian menuju Masjid Negeri Tulehu.

Saat berarak-arak, masyarakat tidak berhenti mengucapkan shalawat dan takbir. Setelah tiba di masjid, kambing kemudian disembelih oleh imam besar.

Tradisi Idul Adha di berbagai wilayah Indonesia ini mencerminkan kekayaan budaya negara ini. Apakah ada tradisi unik di daerah Sahabat? Bagikan di kolom komentar yuk!

Oh iya, berbicara soal Idul Adha, erat kaitannya dengan ibadah kurban. Bagi Sahabat yang ingin berkurban, Yatim Mandiri telah menyediakan beberapa pilihan!

Sahabat bisa kurban 1 ekor kambing 1 ekor sapi, atau bahkan patungan sapi 1/7. Tenang saja, semua hewan kurban di Yatim Mandiri terjaga kualitasnya dan memenuhi syarat hewan kurban.

Yuk, kurban melalui Yatim Mandiri, prosesnya mudah, praktis, dan sesuai syariat Islam!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll to Top
kurban pop up