Bolehkah Puasa Qadha Gabung Puasa Sunnah? Ini Jawabannya

Apakah boleh puasa qadha gabung puasa sunnah? Ulama memiliki pendapat yang berbeda dalam hal ini, silakan simak informasinya di sini!

Bisakah puasa qadha gabung puasa sunnah? Mungkin pertanyaan tersebut muncul dalam benak Sahabat yang masih punya utang puasa Ramadan tahun lalu.

Pada dasarnya, hukum kedua puasa tersebut tidaklah sama. Adapun hukum puasa qadha adalah wajib, sementara puasa sunnah hukumnya tidak wajib.

Nah, perbedaan hukum inilah yang membuat adanya perbedaan pendapat di antara para ulama tentang apakah puasa qadha dan puasa sunnah bisa digabung.

Supaya Sahabat tidak bingung, silakan simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.

Hukum Puasa Qadha dan Puasa Sunnah

Sebelum membahas apakah puasa qadha boleh digabung dengan puasa sunnah, ada baiknya jika Sahabat memahami hukum kedua jenis puasa tersebut.

Sesuai dengan penjelasan di awal, hukum puasa qadha adalah wajib sementara puasa sunnah tidak wajib. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Hukum Puasa Qadha

Puasa qadha adalah puasa yang ditujukan untuk mengganti puasa Ramadan yang ditinggalkan karena udzur syar’i, seperti haid, sakit, atau sedang melakukan perjalanan jauh (musafir).

Mengingat hukum puasa Ramadan adalah wajib, maka puasa qadha juga wajib dilaksanakan untuk mengganti utang puasa yang ditinggalkan.

Dalam Islam, puasa qadha merupakan bentuk keringanan atau rukhsah, karena Islam tidak memaksa umatnya yang tidak mampu untuk berpuasa.

2. Hukum Puasa Sunnah

Berbeda dengan puasa qadha, hukum puasa sunnah tidak wajib. Artinya, Sahabat tidak akan dosa jika tidak melakukannya, dan apabila melaksanakannya, Sahabat akan mendapat pahala.

Perlu diketahui, puasa sunnah sangat dianjurkan dalam Islam karena didalamnya memiliki banyak keutamaan.

Adapun beberapa jenis puasa sunnah yang dikenal dalam Islam antara lain adalah puasa Syawal, puasa Senin Kamis, puasa Daud, puasa Arafah dan lain-lain.

Bolehkah Puasa Qadha dan Puasa Sunnah Digabung?

Mengenai boleh tidaknya puasa qadha gabung puasa sunnah, dalam hal ini ada perbedaan pendapat dari para ulama. Sebagai referensi, Sahabat bisa menyimak beberapa pendapat ulama berikut ini:

1. Boleh Melakukan Puasa Qadha Digabung Puasa Sunnah

Syekh Dr. Ali Jum’ah berpendapat bahwa, puasa qadha boleh digabungkan dengan puasa sunnah.

Secara khusus, Syekh Dr. Ali Jum’ah menyebutkan bahwa niat puasa qadha dengan puasa sunnah Syawal boleh digabungkan.

Menggabungkan niat puasa qadha dan Syawal tidak akan mengurangi pahala dua puasa tersebut. Selain mendapat pahala puasa wajib juga mendapat pahala puasa Syawal.

Di sisi lain, Syekh Abu Bakar Syatha juga memiliki pendapat yang sama yang dituliskan dalam kitab I’anatuth Thalibin jilid II. Pendapat ini didukung oleh Syekh Ar-Ramli dan Ibnu Hajar al-Haitamiy.

Para ulama tersebut menyebut bahwa, niat puasa qadha digabung puasa sunnah boleh dilakukan dan hal itu tidak akan membuat pahalanya berkurang.

Pendapat lain yang memperkuat hukum dibolehkannya menggabungkan puasa qadha dan puasa sunnah adalah ulama Syekh al-Barizi seperti yang tertulis dalam Kitab al-I’ab.

Beliau berfatwa, bahwa jika seseorang menjalankan puasa qadha di hari yang dianjurkan untuk menjalankan ibadah puasa sunnah, seperti Syawal, maka akan mendapat kedua pahala puasa tersebut.

Terlepas dari apakah sebelumnya orang tersebut sudah menyertakan niat untuk puasa sunnah atau belum. Jadi, ada dua pahala yang didapat, yaitu pahala puasa Ramadhan dan puasa sunnah.

2. Sebaiknya Mendahulukan Puasa Qadha 

Dalam Kitab Mughnil Muhtaj, Al-Khatib Asy-Syabirin berpendapat bahwa, seseorang yang memiliki hutang puasa dianjurkan mengganti puasa wajib terlebih dahulu, baru melaksanakan puasa sunnah.

Demikian juga dengan Prof. Quraish Shihab yang memiliki pendapat sama, bahwa utang puasa Ramadan sebaiknya lebih didahulukan pelaksanaannya daripada puasa sunnah.

Pendapat mengenai didahulukannya puasa qadha daripada puasa sunnah didasarkan pada hukum kedua puasa tersebut.

3. Tidak Diperbolehkan Menggabung Niat Puasa Qadha dan Puasa Sunnah

Meskipun ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa boleh menggabungkan niat puasa qadha dan puasa sunnah, namun ada pula yang berpendapat sebaliknya.

Dalam buku Fiqih Niat karya Isnan Ansory, disebutkan bahwa niat ibadah wajib dan ibadah sunnah yang digabungkan akan berdampak pada salah satu ibadahnya saja yang sah.

Sebagai contoh, niat puasa qadha digabung dengan niat puasa sunnah Senin Kamis, maka menurut beberapa ulama puasa wajibnya sah sedangkan puasa sunnahnya batal. Wallahu a’lam Bishawab.

Niat Puasa Qadha

Sudah tahukah Sahabat, bagaimana cara puasa qadha? Sebenarnya, tidak jauh berbeda dengan puasa Ramadan. Hanya saja, niat puasanya yang berbeda.

Adapun niat puasa qadha adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi ramadhaana lillahi ta’aalaa.”

Artinya: “Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Sunnah

Niat puasa sunnah berbeda-beda, tergantung pada tujuan dan jenisnya. Misalnya saja, jika Sahabat ingin melaksanakan puasa sunnah Syawal, maka bacaan niatnya adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta’âlâ.”

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Itu dia jawaban atas pertanyaan bolehkan puasa qadha gabung puasa sunnah. Apakah Sahabat sudah memahaminya?

Pada dasarnya, pandangan ulama terkait pernyataan tersebut terbagi menjadi 3, yaitu boleh, lebih baik mendahulukan puasa qadha, dan tidak boleh.

Terlepas dari pendapat tersebut, Sahabat harus ingat bahwa utang puasa Ramadan harus segera dibayar, ya!

Jika ditunda-tunda hingga datang Ramadan selanjutnya, maka Sahabat harus membayar fidyah. Soal ini, Sahabat bisa membaca ketentuan lebih lanjutnya di artikel kami yang membahas apa itu fidyah.

Nah, kira-kira, apakah Sahabat pernah menunda membayar utang puasa hingga Ramadan selanjutnya datang?

Jika pernah, yuk segera bayar fidyah melalui Yatim Mandiri, sebuah Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang amanah dan terpercaya.

Yatim Mandiri sudah memiliki izin dan diawasi oleh Kementerian Agama (Kemenag), jadi Sahabat tak perlu ragu dengan kredibilitasnya.

Jangan ditunda lagi, segera bayar fidyah Sahabat sekarang juga!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Scroll to Top