Kisah Sumur Wakaf Utsman bin Affan Sahabat yang Dermawan

Kisah wakaf sumur Raumah Utsman Bin Affan salah satu sahabat Rasulullah menjadi kisah inspiratif yang bisa dicontoh di masa sekarang. Sudah tahu kisahnya? Berikut kisah wakaf Utsman bin Affan.


Mendengar kisah inspiratif sahabat-sahabat Rasulullah SAW pastinya akan memberikan dampak positif. Salah satunya adalah kisah wakaf sumur Utsman Bin Affan, salah satu sahabat Rasulullah yang sangat beliau sayangi. 

Kisah ini sangat populer di kalangan muslim, namun mungkin saja tidak semua muslim mengetahuinya. Wakaf sumur dari Utsman Bin Affan sangatlah membantu dan bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya umat Islam pada masanya. 

Kisah Wakaf Sumur Utsman Bin Affan

1. Tujuan Wakaf Sumur Utsman Bin Affan

Utsaman Bin Affan sangat mencintai dan menyayangi umat Rasulullah, sehingga hatinya tergerak untuk mewakafkan sebuah sumur di masanya untuk kesejahteraan umat muslim. Sumur yang dimaksud bukanlah sumur milik pribadi awalnya, karena sumur tersebut milik Yahudi. 

Sumur Raumah milik Yahudi akhirnya dibeli oleh Utsman Bin Affan, kemudian digratiskan untuk seluruh umat muslim. Bahkan air sumur Raumah juga dialirkan ke kebun kurma, sehingga kurma bisa tumbuh subur dan dapat meningkatkan kesejahteraan umat di masanya. 

2. Awal Mula Kisah Wakaf Sumur Utsman Bin Affan

Kisah Utsman Bin Affan mewakafkan sumur Raumah berawal di hari yang sangat terik dan panas di seluruh kota Jazirah Arab. Bahkan angin yang berhembus tidak bisa memberikan kesegaran melainkan membawa hawa panas. 

Sangat memprihatinkan, karena di kala itu sumur-sumur di rumah warga mengalami kekeringan, sehingga tidak ada air untuk kebutuhan sehari-hari. Pada masa itu, Kota Madinah sedang mengalami musim paceklik yang berkepanjangan. 

Namun, ada satu sumur yang tidak mengalami kekeringan dan sumber airnya masih mengalir meskipun musim sedang kemarau. Sumur tersebut adalah sumur Raumah, salah satu sumur miliki seorang Yahudi. 

Rasulullah SAW dan seluruh rakyat Madinah yang kekurangan air pun merasa sangat kehausan, karena saking teriknya matahari. Alhasil, kaum muslimin dan warga Madinah terpaksa membeli air di sumur Yahudi dan rela mengantre panjang. 

3. Seruan Rasulullah SAW

Kisah wakaf sumur Utsman Bin Affan pun berlanjut, ketika Rasulullah bersabda lirih karena tidak kuasa melihat seluruh umatnya menderita kehausan karena bencana kekeringan air di Kota Madinah. Sabda beliau:

“Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka ia akan mendapatkan surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).

Utsman Bin Affan yang mendengar seruan Rasulullah SAW pun langsung menyambut dan mendatangi si pemilik sumur Raumah. Beliau berniat untuk membeli sumur tersebut, agar bisa digunakan oleh seluruh masyarakat Kota Madinah. 

4. Proses Pembelian Sumur oleh Utsman Bin Affan

Si pemilik sumur Raumah langsung menawari Utsman Bin Affan dengan harga sangat tinggi, bahkan hingga puluhan dinar. Namun di sisi lain, sang pemilik merasa bimbang karena merasa khawatir ketika sumur sudah dijual ia tidak memiliki penghasilan lagi. 

Maka dari itu, negosiasi berlanjut sehingga mereka berdua mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, yakni menggunakan sumur secara bergantian. Utsman Bin Affan akhirnya mendapatkan sumur Raumah dengan harga yang sangat tinggi, bahkan cukup untuk menghidupi si pemilik sumur yang seorang Yahudi tersebut.

5. Yahudi Merasa Rugi

Karena sudah mendapat persetujuan dari pemilik sumur Raumah dan membayar sumur tersebut, Utsman akhirnya segera kembali dan mengumumkan kepada seluruh penduduk Madinah untuk segera mengambil air di sumur untuk persediaan selama dua hari. 

Akhirnya, seluruh rakyat Madinah datang berbondong-bondong untuk mengambil air dari sumur Raumah, namun tidak seperti sebelumnya karena mereka mendapatkan air tanpa perlu mengeluarkan uang. 

Keesokan harinya, sumur Raumah kembali ke sang pemilik namun ternyata sepi pembeli, karena penduduk sekitar masih memiliki persediaan air di rumah yang mereka ambil kemarin. Sang pemilik sumur pun merasa rugi, sehingga akhirnya mendatangi Utsman Bin Affan untuk menjual sumur secara utuh. 

Tanpa pikir panjang, Utsman Bin Affan pun membeli sumur Raumah dengan harga mencapai 20.000 dirham, sehingga sumur berubah kepemilikan saat itu juga. 

6. Sumur Dimanfaatkan Seluruh Rakyat Madinah

Secara resmi, Utsman Bin Affan mewakafkan sumur Raumah yang baru saja beliau beli untuk kepentingan kaum muslimin, untuk kepentingan umat, dan seluruh rakyat Madinah. Akhirnya, sumur milik Utsman Bin Affan tersebut menjadi satu-satunya sumber mata air lahan di sekitarnya, bahkan hingga ditanami kebun kurma. 

Rakyat Madinah memanfaatkan kurma sebagai salah satu sumber penghasilan mereka, yakni untuk berdagang dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Karena sumur wakaf tersebut, akhirnya kebun kurma terus meluas dan pohon kurma terus bertambah, bahkan dapat diwariskan dari generasi ke generasi. 

Pengelolaan secara turun temurun dari Khalifah, kemudian Daulah Utsmaniyyah dan terakhir dikelola oleh pemerintah Arab Saudi, dan seluruh keuntungan dari penjualan kurma akan disalurkan ke anak yatim. Sebagian lagi akan disimpan di rekening bank yang berada di bawah pengawasan Departemen Pertanian, tentunya atas nama Utsman Bin Affan.

7. Hotel Utsman Bin Affan di Madinah

Meskipun sudah ribuan tahun berlalu, manfaat yang diberikan oleh sumur Utsman bin Affan hingga kini masih tak berhenti mengalir. Bahkan rekening atas namanya pun terus bertambah, sampai akhirnya pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk membeli tanah dengan uang tersebut di kawasan eksklusif, yakni Markaziyah dekat Masjid Nabawi. 

Di atas tanah yang dibeli dari hasil sebagian keuntungan kebun kurma di rekening bank atas nama Utsman, dibangunlah hotel dengan 210 kamar siap sewa dan 30 kamar khusus untuk menyambut para wisatawan. 

Hotel tersebut diberi nama Hotel Utsman bin Affan Madinah, dengan bangunan menjulang tinggi hingga 15 lantai dan 24 kamar di setiap lantainya. Lantas, hasil keuntungan dari hotel wakaf tersebut dibuat apa? Tentu saja digunakan untuk kepentingan umat Islam seluas-luasnya hingga akhir nanti. 

Dengan demikian, meskipun jasad Utsman Bin Affan sudah tertimbun oleh tanah bahkan melebur menjadi satu, namun amalnya tetap terus mengalir tanpa henti karena wakaf sumur yang beliau lakukan di masa hidupnya. 

Pasalnya, manfaat yang diperoleh dari hasil wakaf tersebut tetap dirasakan oleh umat muslim hingga saat ini. Hotel dan rekening bank atas namanya adalah salah satu saksi bisu atas kedermawanan sahabat Rasulullah satu ini dan bukti akan aktualisasi wakaf demi kesejahteraan umat. 

Selain itu, sumur Raumah yang dibeli Utsman Bin Affan di masanya juga menjadi salah satu bentuk keajaiban wakaf produktif yang sangat mensejahterakan umat. Meski sudah 14 abad berlalu, namun pengorbanan Utsman untuk umat Rasulullah tetap kekal dan abadi. 

Jangan berpikiran bahwa wakaf harus mengeluarkan dana dalam jumlah besar, karena di zaman sekarang ada wakaf terjangkau. Salah satunya wakaf produktif dengan menyediakan dan mengelola aset wakaf secara berkelanjutan. 

Setelah itu, dapat diambil keuntungan sama seperti kisah wakaf sumur Utsman Bin Affan untuk umat muslim. Caranya sangat gampang, karena kini sudah ada Yatim Mandiri sebagai Nadzir resmi yang telah ditunjuk oleh pemerintah yang siap membantu seluruh umat muslim di Indonesia untuk berwakaf dengan mudah dan tidak memberatkan. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll to Top