Memahami Megathrust dan Wilayah Potensialnya di Indonesia
- account_circle Bagus
- calendar_month 50 menit yang lalu
- visibility 11
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Istilah megathrust kembali menjadi perhatian seiring tingginya aktivitas kegempaan di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, kemunculan gempa di berbagai daerah tidak serta-merta berarti gempa megathrust akan segera terjadi.
Megathrust juga bukan fenomena baru yang tiba-tiba muncul. Zona ini merupakan bagian dari proses tektonik bumi yang telah berlangsung sangat lama. Karena itu, pembicaraan mengenai megathrust sebaiknya tidak diarahkan pada pertanyaan kapan gempa besar akan terjadi, tetapi pada pemahaman mengenai sumber ancamannya dan wilayah mana yang perlu meningkatkan kewaspadaan.
BBC News Indonesia melaporkan bahwa potensi gempa megathrust di Indonesia bahkan telah dipetakan jauh sebelum tsunami Aceh pada 2004. Informasi mengenai megathrust merupakan pemetaan potensi, bukan prediksi waktu terjadinya gempa.
Apa Itu Megathrust?
Secara sederhana, megathrust adalah zona patahan berukuran sangat besar yang berada pada batas pertemuan dua lempeng tektonik di kawasan subduksi.
Subduksi terjadi ketika salah satu lempeng bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya. Pada bidang pertemuan tersebut, sebagian permukaan antarlempeng dapat terkunci akibat gesekan.
Masalahnya, meskipun bidang tersebut terkunci, lempeng-lempeng bumi tidak berhenti bergerak. Pergerakan yang berlangsung terus-menerus membuat tekanan atau tegangan tektonik terakumulasi.
Apabila tegangan tersebut akhirnya melebihi kemampuan bidang patahan untuk menahannya, bagian yang terkunci dapat bergeser secara mendadak. Pelepasan energi secara tiba-tiba inilah yang menghasilkan gempa bumi.
Karena sebagian besar zona megathrust Indonesia berada di bawah laut, pergeseran dasar laut secara vertikal dalam skala besar juga dapat memindahkan massa air laut. Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat memicu tsunami.
Dengan demikian, istilah megathrust sebenarnya merujuk pada sumber atau zona patahannya, bukan nama untuk setiap gempa besar yang terjadi.
Mengapa Indonesia Memiliki Banyak Zona Megathrust?
Posisi geografis Indonesia membuat persoalan megathrust menjadi sangat relevan. Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif dunia, termasuk Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.
Di bagian barat hingga selatan Indonesia, misalnya, Lempeng Indo-Australia bergerak menunjam ke bawah wilayah yang menjadi bagian dari sistem Eurasia. Proses ini membentuk rangkaian zona subduksi yang membentang dari barat Sumatra, Selat Sunda, selatan Pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.
Sistem subduksi lainnya juga terdapat di kawasan timur Indonesia.
Artinya, keberadaan megathrust merupakan konsekuensi dari posisi tektonik Indonesia. Zona tersebut telah terbentuk melalui proses geologi yang berlangsung sangat lama dan tidak muncul karena fenomena tertentu yang terjadi belakangan ini.
Di Mana Wilayah Potensi Megathrust Indonesia?
Potensi megathrust tidak berada pada satu titik tertentu. Zona tersebut berupa bidang patahan yang sangat luas dan terbagi dalam sejumlah segmen.
BBC News Indonesia, mengutip Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, menyebut terdapat 14 zona megathrust yang berpotensi memberikan dampak terhadap Indonesia.
Zona-zona tersebut meliputi:
- Aceh–Andaman — potensi magnitudo maksimum M9,2
- Nias–Simeulue — M8,7
- Batu — M7,8
- Mentawai–Siberut — M8,9
- Mentawai–Pagai — M8,9
- Enggano — M8,9
- Megathrust Jawa — M9,1
- Jawa bagian barat — M8,9
- Jawa bagian timur — M8,9
- Sumba — M8,9
- Sulawesi Utara — M8,5
- Palung Cotabato — M8,3
- Filipina Selatan — M8,2
- Filipina Tengah — M8,1
Angka magnitudo tersebut merupakan skenario potensi maksimum berdasarkan pemodelan sumber gempa, bukan ramalan bahwa gempa dengan kekuatan tersebut pasti terjadi dalam waktu dekat.
Karena itu, peta megathrust tidak tepat dibaca sebagai peta lokasi yang “sebentar lagi akan pecah”.
Pantai Barat Sumatra hingga Selatan Jawa Perlu Memberi Perhatian Lebih
Untuk sistem megathrust Sumatra–Jawa, wilayah yang berhadapan langsung dengan zona subduksi menjadi kawasan yang perlu memahami risikonya dengan baik.
Daerah tersebut terutama mencakup pesisir barat Sumatra, kawasan Selat Sunda, pantai selatan Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara. Selain kemungkinan mengalami guncangan kuat, wilayah pesisir juga perlu memperhitungkan potensi tsunami apabila gempa menyebabkan deformasi vertikal dasar laut dalam skala besar.
Namun, lokasi sebuah daerah tidak sendirian menentukan besar kecilnya dampak.
Kerusakan akibat gempa juga dipengaruhi oleh jarak terhadap sumber gempa, kedalaman gempa, arah perambatan patahan, karakter tanah dan geologi setempat, kualitas konstruksi bangunan, kepadatan penduduk hingga kesiapan masyarakat.
Itulah sebabnya dua wilayah yang mengalami gempa dari sumber yang sama dapat menerima tingkat guncangan dan kerusakan yang berbeda.
Mentawai–Siberut, Selat Sunda, dan Sumba Mendapat Perhatian
Dari berbagai segmen tersebut, BBC News Indonesia melaporkan bahwa Mentawai–Siberut, Selat Sunda, dan Sumba termasuk zona yang mendapat perhatian karena sudah cukup lama tidak mengalami pelepasan energi melalui gempa besar.
Dalam ilmu kebumian, kondisi semacam ini sering dikaitkan dengan istilah seismic gap, yakni bagian dari zona tektonik yang relatif lama tidak mengalami gempa besar dibandingkan segmen di sekitarnya.
Namun seismic gap tidak dapat digunakan sebagai kalender untuk menentukan kapan gempa akan berlangsung.
Pakar gempa UGM Gayatri Indah Marliyani mengingatkan:
“Tapi seismic gap pun bukan jam hitung mundur.”
Artinya, keberadaan seismic gap membantu ilmuwan menentukan kawasan yang memerlukan kajian dan mitigasi lebih serius, tetapi tidak mampu memberikan tanggal atau waktu terjadinya gempa.
Gempa Besar Tidak Selalu Berarti Megathrust
Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa tidak semua gempa besar di Indonesia berasal dari megathrust.
Indonesia memiliki banyak sumber gempa: mulai dari sesar aktif di daratan, gempa yang terjadi di dalam lempeng yang telah menunjam (intraslab), sistem sesar naik seperti Flores Back-Arc Thrust hingga gempa yang memang bersumber dari bidang megathrust.
Karena itu, munculnya beberapa gempa dalam waktu berdekatan juga tidak otomatis menunjukkan bahwa zona megathrust sedang menuju gempa besar.
BBC mencatat para ahli menekankan bahwa keterkaitan antargempa harus dibuktikan melalui analisis struktur tektonik dan perubahan tegangan, bukan hanya karena lokasi atau waktu kejadiannya terlihat berdekatan.
Memahami Potensi, Bukan Menebak Waktu
Pembahasan megathrust pada akhirnya perlu ditempatkan secara proporsional.
Indonesia memang memiliki banyak zona megathrust dan sejumlah wilayah berhadapan langsung dengan sumber gempa besar. Namun, keberadaan potensi tersebut tidak berarti gempa besar dapat dipastikan akan terjadi dalam waktu dekat.
Ilmu pengetahuan saat ini dapat membantu memetakan lokasi sumber gempa, memperkirakan skenario magnitudo, menganalisis potensi guncangan dan tsunami, serta mengenali daerah yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Tetapi waktu pasti terjadinya gempa belum dapat diprediksi.
Karena itu, memahami megathrust bukan semata-mata tentang mencari tahu kapan gempa akan datang, melainkan mengetahui di mana sumber ancaman berada, bagaimana mekanismenya bekerja, dan mengapa masyarakat yang tinggal di wilayah berisiko perlu memahami karakter daerahnya.
Seperti disampaikan para ahli dalam laporan BBC, megathrust adalah bagian dari kenyataan geologis Indonesia. Keberadaannya tidak perlu menjadi sumber kepanikan, tetapi menjadi alasan untuk membangun pengetahuan dan kesiapsiagaan yang lebih baik.
Rujukan utama: BBC News Indonesia, laporan Riana A Ibrahim, “Potensi gempa megathrust di Indonesia – Apakah Indonesia siap menghadapinya jika terjadi?” Laporan tersebut memuat penjelasan pakar dari UGM, BRIN, BMKG, dan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia.
- Penulis: Bagus



Saat ini belum ada komentar