Apakah Benar Menikah di Bulan Muharram itu Tidak Baik?

Benarkah menikah di bulan Muharram dianggap tidak baik? Berikut ini akan diulas mengenai hal tersebut berdasarkan perspektif dalam agama Islam.


Di dalam agama Islam, terdapat beberapa pandangan dan keyakinan terkait menikah di bulan Muharram. Meskipun beberapa tradisi budaya menyambut pernikahan di bulan ini dengan keberkahan, ada juga pandangan yang menyatakan tentang larangan atau pantangan untuk melakukan pernikahan di bulan Muharram.

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah dan memiliki makna tersendiri bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain menjadi awal tahun baru Islam yang identik dengan ibadah, bulan Muharram juga dianggap sebagai salah satu bulan yang penuh berkah.

Oleh karena itu, banyak pasangan Muslim yang memilih untuk menikah pada bulan yang mulia yakni Muharram karena keberkahan dan makna khusus yang terkandung dalam bulan suci ini. Agar tidak ragu lagi, silakan simak beberapa penjelasannya di bawah ini perihal menikah pada bulan Muharram.

Menikah di Bulan Muharram Menurut Islam

 

Menikah di Bulan Muharram Menurut Islam

Dalam Islam, ada berbagai macam pandangan terkait dengan pernikahan yang dilaksanakan pada bulan Muharram. Di bawah ini akan diulas beberapa pandangan tersebut sehingga dapat menjadi pedoman dan informasi untuk Anda.

1.   Makna Bulan Muharram

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bagaimana makna dari bulan yang sangat mulia itu sendiri. Bulan Muharram memiliki makna khusus dalam Islam, salah satunya adalah dan peristiwa bersejarah yang memiliki nilai penting dalam kehidupan umat Muslim. 

Contohnya adalah peringatan hari ‘Asyura yang merupakan hari peringatan penyelamatan Nabi Musa dan kaumnya dari Fir’aun, serta hari peringatan syahidnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain, dalam Pertempuran Karbala.

Pada hari tersebut, umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah Asyura yaitu pada tanggal 10 Muharram. Keutamaan puasa sunah ini juga tidak main-main, karena dapat menghapus dosa-dosa yang diperbuat pada tahun sebelumnya.

Oleh karena makna dan peristiwa penting ini, banyak umat Muslim yang memandang bulan Muharram sebagai bulan suci yang sebaiknya dimeriahkan dengan amal ibadah, introspeksi, dan berdoa. 

Dengan demikian, ada pula pandangan yang menyatakan bahwa menikah di bulan ini dapat mengurangi kekhususan dan makna penting bulan ini, sehingga ada larangan atau tidak disarankan untuk melangsungkan pernikahan di bulan ini.

Sehingga, pernyataan tersebut hanyalah pandangan semata karena tidak ada dalil yang secara jelas melarang pernikahan diadakan pada bulan Muharram.

2.   Keutamaan Ibadah

Perspektif berikutnya terkait menikah di bulan Muharram dilihat dari keutamaan ibadahnya. Bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam Islam (Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah). Bulan-bulan tersebut memiliki keutamaan dan nilai penting dalam pelaksanaan ibadah. 

Sebagai contoh, puasa di bulan Muharram memiliki keutamaan khusus, terutama pada tanggal 10 Muharram (hari ‘Asyura) dan hari sebelumnya (Tasu’a). Banyak umat Muslim yang mengutamakan ibadah dan amal shaleh di bulan ini sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan begitu, banyak yang menyarankan untuk mengutamakan ibadah dan berdoa di bulan Muharram, sehingga menikah di bulan ini dikhawatirkan dapat mengurangi fokus dan kesempatan untuk melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati.

3.   Menghormati Peristiwa di Bulan Muharram

Larangan menikah di bulan Muharram juga dapat diartikan sebagai bentuk penghormatan terhadap makna khusus dan peristiwa penting yang ada di bulan ini. 

Dengan tidak melangsungkan pernikahan di bulan Muharram, umat Muslim dapat lebih menghargai dan merenungkan nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam bulan yang mulia dan suci ini.

4.   Variasi dari Beberapa Pandangan

Perlu diketahui bahwa pandangan mengenai larangan menikah pada bulan Muharram bisa bervariasi di berbagai budaya dan komunitas Muslim. Beberapa komunitas mungkin lebih menghormati tradisi tertentu yang memperbolehkan pernikahan di bulan Muharram dengan tetap memperhatikan nilai keagamaan.

Tradisi Menikah di Bulan Muharram

Tradisi Menikah di Bulan Muharram

Apabila tetap berkeinginan untuk melangsungkan pernikahan, Anda dapat mengikuti tradisi berikut ini sehingga acara yang diadakan tetap sakral tidak menimbulkan konflik.

1.   Mengadakan Acara yang Sederhana

Banyak pasangan Muslim yang memilih untuk mengadakan pernikahan sederhana dan khidmat di bulan Muharram. Mereka berfokus pada nilai-nilai agama dan kebersamaan dengan keluarga dan sahabat terdekat sehingga tidak menghilangkan penghormatan kepada peristiwa di bulan Muharram.

Acara yang digelar dengan cara sederhana akan terasa lebih khidmat karena benar-benar diatur untuk tidak mengganggu orang-orang di sekitar dan cukup untuk memenuhi niat pernikahan. Tentunya juga bisa menghemat biaya pernikahan yang akan dikeluarkan karena tidak butuh banyak perlengkapan.

2.   Tidak Menyelenggarakannya Pesta Besar-besaran

Selain sederhana, acara yang digelar hendaknya bukanlah pesat besar-besaran yang menghabiskan banyak uang. Beberapa pasangan Muslim memilih untuk tidak menyelenggarakan pesta pernikahan besar-besaran atau mengurangi tradisi yang cenderung berlebihan dan kemewahan.

Cukup dengan pesta kecil yang khidmat, damai dan sakral maka acara pernikahan tetap berkesan dan membawa keberkahan untuk keluarga tersebut.

3.   Memahami Amanah dan Tujuan Pernikahan

Selain fokus pada keberkahan dan tradisi di bulan Muharram, pasangan yang menikah juga diingatkan tentang bagaimana tanggung jawab dan amanah dalam pernikahan. Pernikahan dalam agama Islam bukan sekadar ikatan lahiriah, tapi juga ikatan batiniah yang diamanahkan langsung oleh Allah SWT. 

Pasangan harus saling mencintai, menghormati, dan mendukung dalam kebaikan dan kesulitan satu sama lain. Menikah di bulan Muharram adalah kesempatan bagi pasangan Muslim untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai pernikahan Islami dengan lebih mendalam.

4.   Lengkapi dengan Amal Sedekah

Pasangan yang menikah di bulan ini dianjurkan untuk beramal dan bersedekah lebih banyak sebagai bentuk syukur dan memohon keberkahan dari Allah. Dalam hal ini, mereka bisa mengajak anak yatim ikut memeriahkan acara pernikahan.

Pastinya ini dinilai sebagai suatu bentuk syukur kepada Allah SWT atas pernikahan yang telah dilaksanakan. Apalagi pada tanggal 10 Muharram juga dikenal sebagai hari raya anak yatim, sehingga bisa langsung memberikan perhatian dan kasih sayang pada anak-anak tersebut.

5.   Perbanyak Membaca Al-Fatihah

Pasangan Muslim yang menikah di bulan mulia ini disarankan untuk membaca Surah Al-Fatihah sebelum upacara pernikahan sebagai doa dan permohonan keberkahan dari Allah. Selain itu, juga dapat memperlancar acara pernikahan yang sedang diselenggarakan. 

Banyak membaca surah Al-Fatihah adalah tradisi menikah di bulan Muharram yang juga mempunyai banyak sekali keutamaan. Bacaan Al-Fatihah dihitung sebagai amal ibadah karena dapat menjadi ladang pahala bagi siapa pun yang membacanya.

6.   Perbanyak Shalat Sunnah, Doa, dan Zikir

Di samping membaca surah Al-Fatihah, Anda juga perlu melakukan banyak shalat sunnah di bulan Muharram. Dikenal sebagai bulan yang penuh berkah pastinya berbagai macam doa harus dipanjatkan melalui ibadah shalat dan doa.

Semakin banyak melakukan shalat sunnah maka kesempatan berdoa akan semakin terbuka lebar. Permohonan yang diucapkan akan lebih cepat didengar oleh Allah SWT sehingga keinginan untuk kelancaran pernikahan akan segera terwujud.

Tidak lupa pula untuk senantiasa berdzikir mengingat Allah SWT supaya disetiap langkah yang diambil selalu dalam lindungan Allah SWT.

Pemahaman tentang menikah di bulan Muharram sebenarnya adalah bagaimana cara menghargai bulan tersebut agar seimbang antara ibadah dan keperluan masing-masing. Dengan melaksanakan pernikahan disertai dengan sedekah di Yayasan Yatim Mandiri, berbagi akan terasa lebih mudah dilakukan.

Santoso
Lewat aksara menggapai cita dan membantu sesama.