Sedekah atau Bayar Hutang, Mana yang Lebih Utama?

Sedekah atau bayar hutang

Sedekah atau bayar hutang dianjurkan untuk dilakukan selama masih hidup. Membayar hutang harus didahulukan karena hukumnya wajib, sedangkan sedekah sunnah.


Sedekah dan bayar hutang adalah dua hal yang berbeda. Meskipun berbeda, namun kedua hal ini sifatnya baik atau berpotensi mendapatkan pahala dari Allah apabila dilakukan dengan ikhlas. Jika berbicara timingnya, sedekah atau bayar hutang ini mana yang harus didahulukan?

Orang yang punya hutang, tidak jarang yang ingin tetap beramal dengan cara sedekah. Namun karena kondisi ekonomi yang pas-pasan, maka sedekah pun biasanya diakhirkan. Tentu dalam hal ini membayar hutang lebih diutamakan dari pada membayar sedekah.

Anjuran untuk Bersedekah

Tata Cara dan Niat Wakaf Alquran
Sumber Gambar : Pixabay

Meskipun membayar hutang harus lebih diutamakan dari pada sedekah, namun tetap saja dalam Islam ada anjuran untuk melaksanakan sedekah. Membayar hutang sifatnya wajib dan sedekah sifatnya dianjurkan hampir diwajibkan karena ada anjuran tersebut.

Agar lebih paham, di bawah ini ada beberapa ulasan dari anjuran bersedekah berdasarkan dalil Quran dan hadits yang bisa memperkuat sedekah atau bayar hutang sama-sama dianjurkan dalam Islam. Diantara ulasannya adalah:

1. Sedekah dan Kematian

Dalam Qur’an surat Al Munafiqun terdapat ayat tentang sedekah dikatakan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk membayar sedekah dari hartanya sebelum waktu ajalnya tiba.

Hal ini dapat bermaksud bahwasanya seseorang yang di ambang kematian tentu akan sulit melaksanakan ibadah sedekah. Apalagi istilah seseorang yang memberikan hartanya saat ajal menjelang dinamakan wasiat, dan bukan sedekah.

2. Sedekah dan Keutamaannya

Selanjutnya ada anjuran bersedekah karena ada keutamaan yang membersamainya. Hal ini telah tertuang dalam Qur’an surat Al Hadid ayat 18.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang beriman yang bersedekah karena Allah, ia akan dilihat gandakan hartanya begitu pula pahalanya.

3. Sedekah Melapangkan Rejeki

Anjuran sedekah juga dijelaskan dalam Qur’an surat Saba ayat 39. Pada surat dan ayat tersebut telah dijelaskan bahwa Allah akan melapangkan rejeki siapapun yang dikehendaki-Nya, dalam hal ini adalah orang-orang yang mau bersedekah.

Selain itu, Allah juga berhak menyempitkan rezeki siapapun yang dikehendaki-Nya. Dalam hal ini adalah orang-orang yang kikir atau pelit karena tidak mau mengeluarkan hartanya untuk sedekah.

4. Sedekah Saat Sempit dan Lapang

Terlepas dari perbandingan utama sedekah atau bayar hutang kepada orang lain, Allah telah menganjurkan untuk tetap bersedekah walau di saat sempit. Sempit dan lapang yang dijelaskan pada anjuran ini adalah kondisi sedang punya harta dan sedang miskin atau kekurangan.

Seperti yang diketahui bahwa kondisi ekonomi seseorang terkadang bagus terkadang juga buruk. Meskipun sedang dalam kondisi sempit pun, Allah sangat menganjurkan untuk mengeluarkan sedekah.

Anjuran ini ada pada surat Ali Imran ayat 134. Dalam ayat ini pun disebutkan bahwa Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan baik di waktu lapang maupun sempit.

5. Sedekah dan Bisikan Setan

Seperti yang semua orang ketahui, setan memang sangat suka menggoda manusia untuk tidak berbuat baik, termasuk dalam hal membayar sedekah. Setan akan membalikkan godaan-godaan kemiskinan apabila orang tersebut punya niat sedekah.

Sebaliknya, Allah sudah sangat jelas memberikan jaminan pahala dan rejeki yang berlipat ganda ketika seseorang berniat ikhlas untuk mengeluarkan sedekah.

Maka dalam hal ini umat Islam sangat dianjurkan untuk mengabaikan godaan setan dan tetap membayar sedekah sesuai anjuran dalam Islam.

6. Sedekah 700 Kali Lipat

Anjuran sedekah yang satu ini sudah dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat ke 261. Dalam ayat tersebut dijelaskan perumpamaan sedekah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang ikhlas.

Perumpamaan yang dimaksud adalah sebutir benih yang mampu menumbuhkan tujuh bulir. Dalam setiap bulirnya akan tumbuh 100 biji. Jika ditolak biji yang tumbuh adalah 700 biji.

Ini adalah perumpamaan ganjaran yang akan diberikan Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas bersedekah di jalan Allah.

7. Menyedekahkan Apa Saja Pada yang Membutuhkan

Selanjutnya anjuran bersedekah ini juga tertuang dalam surat Al Baqarah ayat 215. Dalam ayat ini dijelaskan terkait apa saja yang bisa dijadikan sebagai sedekah di jalan Allah. Maka dijelaskan bahwa harta apa saja bisa disedekahkan dengan niat karena Allah Ta’ala.

Lantas kepada siapa saja sedekah ini bisa diberikan? Sedekah ini hendaknya diberikan kepada ibu dan bapak, kerabat, anak yatim, orang yang sedang di perjalanan, dan fakir miskin. Jadi objek tujuan diberikannya sedekah ini luas sekali, tidak hanya pada orang miskin saja.

Bayar Hutang itu Wajib

sumber gambar : Shutterstock

Jika dilihat dari hukum asalnya, sedekah atau bayar hutang jelas berbeda. Membayar hutang hukumnya wajib karena hal ini berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup seseorang yang dihutangi. Sedangkan sedekah hukumnya tidak wajib namun dianjurkan.

Bahkan seseorang yang miskin saja juga dianjurkan untuk tetap bersedekah, baik itu perbuatan baik, jasa, maupun dengan harta. Meski begitu orang yang tidak bersedekah tidak bisa secara langsung dihukumi dosa. Berbeda halnya dengan berhutang yang justru akan dihukumi dosa jika tidak melunasi.

Adapun kewajiban membayar hutang ini juga mengakibatkan kondisi bahaya bagi yang enggan melunasinya. Berikut ini poin penjelasan tentang bahaya kondisi yang dimaksud:

1. Terhalang Masuk Surga

Seseorang yang punya hutang lantas hingga ia mati belum membayar hutangnya tersebut, maka ia akan terhalang masuk ke dalam surga jika memang ia ditakdirkan masuk ke surga.

Bagaimana jika ia mati syahid? Tetap saja meskipun ia mati syahid ia akan terhalang karena hutangnya di dunia. Hal ini sudah dijelaskan sendiri oleh Rasulullah dalam hadistnya berikut:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلاً قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ مَرَّتَيْنِ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

Demi yang jiwaku ada ditanganNya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih punya hutang, maka dia tidak akan masuk surga sampai hutangnya itu dilunasi.

2. Akan Bertemu dengan Allah dengan Status Pencuri

Selain terhalang masuk surga, seseorang yang berhutang dan enggan melunasi akan bertemu dengan Allah di akhirat dengan statusnya sebagai pencuri. Bagaimana tidak, ia belum memenuhi hak orang lain yang ia hutangi di dunia.

Kondisi ini pun dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya yang berbunyi:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺭَﺟُﻞٍ ﻳَﺪَﻳَّﻦُ ﺩَﻳْﻨًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺠْﻤِﻊٌ ﺃَﻥْ ﻻَ ﻳُﻮَﻓِّﻴَﻪُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻟَﻘِﻰَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺳَﺎﺭِﻗًﺎ

“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.”

3. Hidupnya Tidak Tenang

Berhutang memang diperbolehkan dalam Islam. Namun, dalam suatu riwayat Rasulullah pernah berpesan agar umatnya selamat dari kehinaan dengan cara tidak berhutang meskipun sedang sengsara.

Orang yang berhutang seolah-olah tidak punya harga diri di depan orang lain.

Meski begitu, bukan berarti berhutang hukumnya haram. Siapapun jika dalam kondisi darurat sangat diperbolehkan berhutang, asalkan ia berniat untuk melunasinya tepat waktu. Dengan komitmennya ini InsyaAllah Allah sendiri yang akan membantu melunasinya. 

Sedangkan ancaman hina di siang hari dan gelisah di malam hari adalah ancaman untuk orang yang berhutang namun tidak ada niatan sama sekali untuk melunasinya.

4. Sahabat yang Punya Hutang Tidak Disholati Rasulullah

Kewajiban membayar hutang tidak hanya bagi kaum muslim di era sekarang ini. Para sahabat Nabi juga diwajibkan membayar hutang apabila punya hutang.

Bahkan ada ancaman bahwa jika sahabat tidak membayar hutang hingga ia meninggal, Rasulullah tidak akan menyolatinya.

Padahal sholat Rasulullah bisa didefinisikan sebagai syafaat untuk sahabat tersebut, dan syafaat Rasulullah itu pasti adanya.

Maka kemungkinan orang yang punya hutang di dunia dan belum dilunasi hingga di akhirat, berpotensi tidak mendapatkan syafaat Nabi, wallahu a’lam bishawab.

5. Status Dirinya Tidak Jelas

Status yang dimaksud di sini adalah status masuk surga atau neraka ketika ada di alam akhirat kelak. Status seperti ini tentu tidak enak dirasa bagi siapapun. Ia tidak mendapatkan kejelasan akan masuk surga atau neraka karena hutangnya di dunia yang belum lunas.

Meskipun di dunia perangainya baik, namun jika punya hutang dan belum dilunasi tetap ia tidak bisa mendapatkan kepastian status di akhirat. Ini juga berlaku untuk yang sering sedekah namun masih punya hutang. Sedekah atau bayar hutang dulu sebaiknya dilakukan dua-duanya.

6. Pahalanya Diambil Sebagai Tebusan

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, diterangkan bahwasannya seseorang yang punya hutang dan ia meninggal dalam keadaan belum melunasi hutangnya tersebut, maka pahalanya semasa hidup akan diambil.

Pahala yang diambil ini menjadi ganti hutang yang belum terbayar di dunia. Bayangkan saja jika hutangnya menumpuk banyak maka orang tersebut akan rugi karena kehilangan banyak pahala.

Bagaimana Jika Mau Sedekah Tapi Punya Hutang?

Seperti yang sudah dijelaskan terperinci di atas, hukum membayar hutang adalah wajib dan membayar sedekah dianjurkan. Membayar hutang harus terlebih dulu dipikirkan sebelum mau bersedekah. Meski begitu, sedekah atau bayar hutang tetap diperbolehkan dilakukan.

Tentu saja ada kondisi tertentu yang harus dipenuhi jika memang tetap ingin bersedekah di kala punya hutang. Hal ini lantas menjadikan adanya hukum bersedekah ketika punya hutang. Ini dia penjelasan lebih detailnya dalam poin-poin:

1. Hukumnya Tidak Boleh

Hukum sedekah saat punya hutang hukumnya jadi tidak boleh apabila uang yang dimiliki dan akan disedekahkan tersebut adalah uang satu-satunya dan tidak ada sisa uang lagi untuk membayar hutang. Ketentuan ini berlaku untuk yang hutangnya sudah jatuh tempo maupun yang belum.

2. Makruh

Selain dihukumi tidak boleh, bersedekah ketika punya hutang bisa jadi makruh pada kondisi tertentu. Kondisi yang dimaksud di sini adalah ketika punya hutang, lantas ia punya uang lebih. Namun lebih memilih untuk mendahulukan bersedekah dari pada melunasi hutangnya.

Bisa dikatakan bahwa kondisi seperti ini sama halnya dengan meremehkan yang wajib dan meninggikan yang sunnah. Wallahu a’lam bishawab.

3. Boleh

Ternyata sedekah atau bayar hutang bisa dilakukan dua-duanya asalkan memenuhi beberapa kondisi persyaratan. Apa saja kondisi yang dimaksud tersebut?

Saat seseorang yang punya hutang lantas ia punya uang yang jumlahnya melebihi jumlah hutang. Maka ia tetap boleh dan dianjurkan untuk mengeluarkan sedekah. Tentu saja sebelum itu harus melunasi hutangnya terlebih dulu baru boleh bersedekah.

Hutang yang berlaku statusnya kredit, kondisi ini juga menjadikan sedekah diperbolehkan untuk tetap dilakukan. Pasalnya saat hutang tersebut bentuknya kredit, ada masa-masa jatuh tempo tiap bulannya.

Jika dalam sebulan itu ia punya uang untuk membayar hutang dan masih tersisa uang lebihan, maka ia bisa mengeluarkan sedekah bahkan dianjurkan. Biasanya hal ini berlaku untuk orang-orang yang punya gaji bulanan namun punya hutang cicilan.

Bahkan dianjurkan untuk membayar sedekah setiap bulannya jika memang ada uang yang tersisa dari pembayaran cicilan hutang tiap bulan tersebut.

Jika sebelumnya dijelaskan terkait pembayaran hutang yang ada masa jatuh tempo tiap bulannya, maka selanjutnya ini ada kondisi yang mana waktu pembayaran hutangnya bersifat fleksibel.

Kondisi ini berlaku apabila orang yang berhutang ini punya jaminan akan mendapatkan penghasilan lebih dalam waktu dekat. Maka dengan kondisi seperti ini, membayar sedekah masih sangat diperbolehkan, bahkan dianjurkan.

Sedekah atau bayar hutang, keduanya sangat dianjurkan untuk dilakukan selama masih hidup. Untuk yang ingin bersedekah namun masih bingung dengan penyalurannya, bisa percayakan pada Yayasan Yatim Mandiri yang mengelola penyaluran sedekah ke pihak yang membutuhkan.

Abdul Roqib
Berpengalaman dalam bidang SEO melingkupi SEO Content Writer, Link Building, dan Technical SEO.