13 Hadist Berbakti Kepada Orang Tua yang Perlu Diketahui Umat Muslim

Berikut adalah hadist berbakti kepada orang tua yang bisa dijadikan renungan dan motivasi bagi umat muslim agar lebih taat dan patuh pada orang tuanya.


Agama Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berbakti kepada orang tua. Mereka adalah orang yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Hadist berbakti kepada orang tua hendaknya dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan.

Hal ini sesuai dengan seruan Rasulullah yang mengajak umatnya agar tidak melawan dan senantiasa bersikap sopan dan patuh terhadap orang tua. Meskipun orang tuanya sudah meninggal sejak kecil, namun Rasulullah selalu memberi contoh yang baik kepada umatnya.

Macam-Macam Hadist Berbakti Kepada Orang Tua

Secara istilah, pengertian hadist adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah SAW yang dijadikan sebagai landasan dalam syariat Islam.

Kedudukan hadist adalah sebagai sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an. Adapun hadist berbakti kepada orang tua yakni sebagai berikut:

1. Ridho Allah SWT Bergantung Ridho Orang Tua

Hadist pertama yakni tentang ridha Allah SWT yang bergantung pada ridha orang tua. Hal ini karena Allah SWT memerintahkan agar setiap anak bisa menyayangi dan mentaati orangtua dengan tulus dan ikhlas.

Barangsiapa yang bisa mentaati perintah Allah SWT ini, maka Allah akan memberikan ridha kepadanya. Sebaliknya, jika ada orang yang menolak perintah untuk mentaati orang tua, maka Allah SWT akan murka kepadanya.

Misalnya, seorang anak perempuan dilarang keluar rumah di malam hari oleh orang tuanya di malam hari karena dikhawatirkan akan terjadi bahaya atau berbagai risiko lain yang menimpa anak tersebut.

Namun, sang anak tetap pada pendiriannya untuk pergi di malam hari dengan alasan yang tidak terlalu penting. 

Secara tidak langsung, orang tua tidak memberikan ridha atau izinnya kepada anak tersebut. Orang tua tidak rela atau tidak ikhlas apabila anaknya tetap pergi dan tidak menghiraukan himbauan mereka. 

Dengan kata lain, Allah juga tidak akan ridha dan cenderung murka dengan anak tersebut karena berani menolak perintah atau imbauan dari orang tuanya.

Adapun hadist tentang ridha Allah tergantung dengan ridha orang tua tersebut berbunyi: “Ridha Allah SWT bergantung dari ridha kedua orang tua dan murka Allah SWT bergantung dari kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Hibban).

2. Dahulukan Berbakti kepada Ibu

Hadist berbakti kepada orang tua yang selanjutnya adalah tentang mendahulukan berbakti kepada ibu. Seperti yang diketahui, ayah dan ibu adalah orang tua yang harus dihormati tanpa syarat apapun.

Sebab, keduanya telah berjasa dalam melahirkan, membesarkan, dan merawat anaknya dengan penuh kasih sayang. Hanya saja, dalam agama Islam terdapat perbedaan kedudukan antara ayah dan ibu yang mana seorang anak diharuskan lebih mengutamakan untuk berbakti kepada ibunya.

Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan sebanyak tiga kali bahwa seorang anak harus memberikan perhatian kepada ibunya. Sedangkan perintah untuk berbakti kepada ayah hanya sebanyak satu kali. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam hadist berikut:

Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “Siapa dari kerabatku yang paling berhak mendapatkan perbuatan baik dariku?” Beliau mengatakan, “Ibumu.”

Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ayahmu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan teladan Rasulullah di atas, dapat disimpulkan bahwa agama Islam mengutamakan ibu sebanyak tiga kali dibanding dengan ayah. Hal ini didasarkan atas usaha ibu yang begitu keras dalam menjaga, merawat, dan membesarkan anak dari mulai masa kehamilan hingga menyusui.

Bahkan, dalam rangka menekankan perhatian kepada peran ibu, maka seorang ibu yang telah bercerai mempunyai hak yang lebih banyak dan perlu didahulukan untuk diperhatikan oleh anak dibanding dengan ayah.

Oleh karena itu, seorang ibu tunggal berhak memperoleh pertimbangan terdepan saat terjadi perselisihan terkait hak asuh anak. Salah satu berbagi adalah memberikan pahala jariyah kepada orang tua dengan cara bersedekah atas nama orang tua.

3. Pentingnya Mendoakan Orang Tua

Setiap anak perlu berbakti kepada orang tuanya, baik itu orang tua kandung maupun orang tua angkat. Agama Islam telah mengajarkan agar setiap muslim mendoakan kebaikan untuk orang tuanya.

Perlu diketahui bahwa mendoakan orang tua adalah salah satu ciri dari anak sholeh. Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang anak memohonkan ampunan orang tuanya kepada Allah dan berdoa demi keselamatan mereka di dunia maupun akhirat.

Hadist tentang berbakti kepada orang tua dengan cara mendoakannya bahkan diabadikan dalam hadist berikut:

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Berdasarkan hadist berbakti kepada orang tua tersebut, dapat diketahui bahwa dari sekian perkara yang dapat dinikmati oleh penghuni alam barzah adalah doa anak sholeh yang ditujukan kepada orang tuanya.

Hadist tersebut memiliki dua sasaran utama, yakni sebagai bentuk kepedulian pada orang lain meskipun sudah berbeda alam dan juga sebagai bentuk tarbiyah (pendidikan) pada anak supaya menjadi anak yang sholeh dan ingat akan orang tuanya yang telah wafat.

Pastinya, orang yang sudah meninggal juga mengharapkan doa yang berasal dari orang terdekat yang tidak lain adalah anaknya. Mendoakan orang tua juga dapat menjadi bentuk kebaktian seorang anak kepada orang tuanya meskipun sudah berbeda alam.

4. Amalan Paling Utama

Berbakti kepada orang tua adalah salah satu kewajiban seorang muslim yang perlu dilakukan sesudah berbakti kepada Allah dan Rasul. Dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa berbakti kepada orang tua termasuk amalan paling utama yang sebaiknya tidak ditinggalkan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan dalam hadist berbakti kepada orang tua berikut:

“Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, ia bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal paling utama?’ ‘Shalat pada waktunya,’ jawab Rasul. Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ ‘Lalu berbakti kepada kedua orang tua,’ jawabnya. Ia lalu bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawabnya,” (HR Bukhari dan Muslim)

Setelah menyimak hadist di atas, bisa disimpulkan bahwa berbakti kepada orang tua sejajar dengan amalan sholat pada waktunya dan jihad di jalan Allah SWT. Meskipun tergolong sebagai perbuatan yang sepele, namun kedudukannya sangat tinggi dan berpengaruh besar terhadap kehidupan sang anak.

5. Berbakti kepada Orang Tua adalah Jihad

Dalam agama Islam, berbakti kepada orang tua memiliki pahala yang sangat besar asal dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Berbakti kepada orang tua pada dasarnya bukan bertujuan untuk balas jasa atau menjalankan sikap sopan semata.

Namun, berbakti kepada Allah adalah suatu bentuk jihad karena terdapat dalam perintah tauhid. Apabila seorang anak tidak berbakti kepada orang tua, maka ia digolongkan sebagai anak yang durhaka dan mendapatkan dosa besar.

Ada seseorang yang mendatangi Nabi SAW, ia ingin meminta izin untuk berjihad. Nabi bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia jawab, “Iya masih.” Nabi SAW pun bersabda, “Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” (HR Muslim).

Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim tersebut menjelaskan secara detail bahwa berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan jihad.

Hal ini tidak dipungkiri, mengingat orang tua memiliki kedudukan yang cukup tinggi dan mulia. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang anak untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada orang tua.

Perlu diketahui bahwa Allah SWT memberikan kedudukan yang mulia untuk orang tua karena melalui keduanyalah Allah SWT meniupkan kehidupan bagi manusia yang selanjutnya. Bahkan, hubungan antara orang tua dan anak akan terus berlanjut sampai ke akhirat kelak.

6. Berbakti kepada Orang Tua yang Wafat

Berbakti kepada kedua orang tua dapat diwujudkan dengan cara mentaati perintahnya, berakhlak baik di hadapannya, mendoakan kebaikannya, dan menjalin silaturahmi dengan koleganya.

Jadi, berbakti kepada orang tua bukan hanya sekadar menuruti keinginan mereka. Namun, memiliki akhlak terpuji juga termasuk bagian dari perbuatan berbakti kepada keduanya. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam hadist berikut:

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah SAW. Ketika itu datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orangtuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orangtua yang tidak pernah terjalin, dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

7. Dipanjangkan Umur dan Rezeki

Jasa orang tua dalam membesarkan anak memang tidak bisa dihitung dan dibayar dengan apapun. Oleh karena itu, seorang anak dianjurkan untuk selalu berbakti kepada orang tua selama-lamanya.

Meskipun termasuk bagian dari kewajiban yang harus dilaksanakan, namun seorang anak tetap memperoleh banyak manfaat dari menunaikan kewajiban tersebut. Salah satu manfaat yang bisa didapatkan yakni memperoleh umur yang panjang dan rezeki yang melimpah.

Memang, umur manusia tidak ada yang mengetahui kecuali Allah SWT. Namun, takdir bisa mengalami perubahan berdasarkan perbuatan yang dilakukan selama berada di dunia.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR Ahmad).

Dari hadist tersebut, Rasulullah mengatakan bahwa umat yang berbakti kepada orang tua akan diberikan umur yang panjang dan rezeki yang luas.

Oleh karena itu, ketika merasa hidup sangat berat dan serba kekurangan, cobalah untuk mengintrospeksi diri. Apakah ada perbuatan yang salah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seperti melawan orang tua atau melakukan perbuatan dzalim lainnya.

8. Doa Orang Tua Mustajab

Doa kedua orang tua bersifat sangat sakral dan mudah terkabul. Hal ini dapat diketahui dari berbagai ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan tentang kisah para nabi dan rasul yang berdoa untuk anak-anaknya.

Hal ini menunjukan bahwa doa ayah atau ibu sama-sama mustajab bagi anaknya. Dengan jasa dan perannya yang sangat besar untuk anak, maka tidak heran jika agama Islam memberikan derajat yang tinggi kepada orang tua.

Bahkan, perintah untuk berbuat baik kepada orang tua sejalan dengan perintah untuk menyembah Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian, dan doa baik orang tua kepada anaknya.” (HR Ibnu Majah).

Doa ayah dan ibu bahkan memiliki kedudukan yang sama dengan doa nabi untuk umatnya. Dengan kata lain, doa orang tua memiliki kedudukannya yang istimewa dalam agama Islam.

Perlu digaris bawahi bahwa tidak ada yang lebih utama dari doa nabi. Bahkan, sehebat apapun doa para wali belum mampu menandingi kesakralan doa para nabi. Oleh karena itu, doa orang tua lebih utama dibanding doa para wali.

9. Taat Kepada Ayah

Kenikmatan, kesuksesan, prestasi, dan berbagai kebaikan yang didapatkan seorang anak bisa jadi berasal dari perjuangan dan kerja keras dari orang tua.

Contohnya, seorang ayah bekerja dari pagi hingga petang untuk memberi nafkah keluarganya. Meskipun hujan ataupun panas terik tidak ia hiraukan demi mencukupi kebutuhan hidup hingga pendidikan anak-anaknya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita berbakti kepada ayah. Hal ini sesuai anjuran dari Rasulullah.

“Taatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat.” (HR Ahmad).

Dari hadits tersebut, dapat diketahui bahwa setiap anak harus mentaati apapun perintah atau keinginan dari ayah, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

10. Pentingnya Berbakti Kepada Orang Tua di Usia Senja

Saat seorang anak masih kecil, orang tua dengan sabar mengurus dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ketika orang tua sudah renta, maka sudah menjadi tugas anak untuk merawat mereka tanpa berkeluh kesah.

Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang harus dipenuhi, baik saat mereka di usia muda maupun sudah renta. Hal ini sesuai dengan hadist berbakti kepada orang tua singkat berikut ini:

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orangtuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR Muslim).

Dari hadist tersebut, dapat dipahami bahwa Rasulullah mengecam anak yang durhaka kepada orang tua. Hadist tersebut menganjurkan untuk berbakti pada orang tua, terutama saat mereka sudah renta.

11. Larangan menjadi Anak Durhaka

Perlu diketahui bahwa durhaka pada orang tua mengakibatkan seseorang jauh dari rahmat Allah SWT dan dekat dengan siksa neraka. 

Contoh perbuatan yang durhaka kepada orang tua adalah tidak menaati perintahnya, berkata kasar, membohongi, dan melakukan perbuatan tercela lainnya yang membuat mereka sedih.

Ancaman bagi anak yang durhaka benar-benar pedih. Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW:

“Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Dia lalu bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan pada tangannya. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), “Duhai, seandainya beliau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

12. Anjuran untuk Membahagiakan Orang Tua

Orang tua selalu berusaha untuk memenuhi berbagai keinginan anaknya ketika masih kecil. Mereka selalu berupaya untuk membahagiakan anak-anaknya agar tidak sedih dan bisa gembira seperti teman-temannya yang lainnya.

Hal yang sama harusnya dilakukan oleh setiap anak kepada orang tuanya. Perbuatan ini sesuai dengan ajaran agama Islam yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari sahabat Abdullah bin Amr ra, ia bercerita, seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw dan mengatakan, ‘Aku datang kepadamu untuk berbaiat hijrah dan kutinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis. Rasul menjawab, ‘Pulanglah, buatlah keduanya tertawa sebagaimana kau membuat mereka menangis,’’ (HR Abu Dawud).

Dari hadist berbakti kepada orang tua tersebut, dapat diketahui bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah untuk berhijrah dan meninggalkan kedua orangtuanya dalam keadaan menangis.

Namun, Rasulullah justru memerintahkan sahabat tersebut untuk pulang dan membuat orang tuanya agar kembali tertawa lagi. Dengan kata lain, Rasulullah memerintahkan untuk membahagiakan orang tua dan tidak membuat mereka bersedih.

13. Salah Satu Pintu Masuk Surga

Dalam agama Islam, surga terdiri dari banyak pintu yang bisa dimasuki sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan semasa di dunia. Ada pintu sedekah, pintu puasa, pintu sholat jamaah, dan lain sebagainya.

Adapun berbakti kepada orang tua adalah salah satu jenis pintu surga yang kesempatan meraihnya sangat besar bagi para muslim. Surga di bawah telapak kaki ibu adalah kalimat yang tentu sudah tidak asing lagi di kalangan umat Islam. Hal ini merujuk pada hadist berikut:

“Dari Muawiyah bin Jahimah As-Sulami, Jahimah ra mendatangi Nabi Muhammad saw dan berkata, ‘Aku ingin berperang bersamamu dan aku datang untuk meminta petunjukmu.’ Rasul bertanya, ‘Apakah kamu mempunyai ibu?’ ‘Ya,’ jawabnya. ‘Lazimkanlah ibumu karena surga berada di bawah telapak kakinya,’” (HR An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

Hadist berbakti kepada orang tua yang dijelaskan di atas diharapkan dapat menambah motivasi untuk taat dan patuh kepada mereka. Sebagai wujud cinta dan kasih kepada sesama manusia, mari bersedekah melalui Yayasan Yatim Mandiri agar tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Abdul Roqib
Berpengalaman dalam bidang SEO melingkupi SEO Content Writer, Link Building, dan Technical SEO.