Ngawi, YM News – Ketergantungan menahun terhadap pupuk kimia sintetis kini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Ngawi. Menjawab persoalan tersebut, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo bersinergi dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Yatim Mandiri untuk mengedukasi para petani lokal.
Melalui pelatihan intensif, mereka mengajak kelompok tani di Kecamatan Kasreman untuk beralih menggunakan pupuk organik demi memulihkan kesuburan tanah sekaligus mendongkrak produktivitas hasil panen. Aksi nyata pengabdian masyarakat ini digelar pada Jum’at sore, (3/7/2026). Kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan pupuk ramah lingkungan tersebut berpusat di kediaman Bapak Suwadi, RT 04, RW 08, Dusun Konten, Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Krisis kesuburan tanah di balik pentingnya pupuk organik selama beberapa dekade terakhir. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dinilai telah merusak struktur alami tanah di berbagai kawasan persawahan Jawa Timur, termasuk Ngawi. Tanah yang terus-menerus terpapar zat kimia cenderung mengeras, kehilangan mikroorganisme baik, dan menurun kapasitas produksi gabahnya.
Krisis Kesuburan Tanah dan Pentingnya Pupuk Organik
Melihat fenomena ini, Dosen Agribisnis UNS Solo, Ibu Dr. Desy Setyaningrum, S.P., M.P., hadir sebagai pemateri utama guna membedah pentingnya transisi ke pertanian organik. Di hadapan para petani, Dr. Desy menyajikan data dan simulasi sederhana tentang bagaimana pupuk organik mampu memperbaiki pori-pori tanah dan mengembalikan unsur hara yang hilang.
“Tanah pertanian kita saat ini sedang mengalami kejenuhan akibat asupan kimia yang masif. Transformasi ke pupuk organik bukan lagi sekadar pilihan alternatif saat pupuk subsidi langka. Ini adalah investasi wajib untuk masa depan agraria kita agar ekosistem tanah tetap hidup dan biaya operasional petani bisa ditekan secara signifikan,” papar Dr. Desy Setyaningrum di sela-sela diskusi kelompok.
Pelatihan ini berjalan sangat dinamis dan interaktif. Sebanyak 10 petani pelopor yang tergabung dalam Kelompok Tani “Margo Rukun” tidak hanya mendengarkan teori, melainkan diajak berdialog dua arah mengenai permasalahan hama, jamur tanaman, serta teknik fermentasi bahan baku organik setempat.
Memperluas Dampak Sosial Melalui Sektor Pertanian
Memperluas dampak sosial melalui sektor kebermanfaatan tani bagi Laznas Yatim Mandiri. Keterlibatan dalam dunia pertanian makro merupakan babak baru dari perluasan program pemberdayaan masyarakat. Lembaga yang biasanya identik dengan program sosial-pendidikan anak yatim dan duafa ini kini memandang sektor ketahanan pangan sebagai aspek krusial yang harus diintervensi. Bapak Rifki Nurdiansyah, selaku Kepala Regional 3 Yatim Mandiri, menyampaikan bahwa kolaborasi strategis dengan akademisi dari UNS Solo menjadi kunci penting agar bantuan yang disalurkan tepat sasaran dan berbasis ilmu pengetahuan.
“Kami di Yatim Mandiri ingin terus memperluas sayap program kebermanfaatan. Sektor pertanian adalah urat nadi kehidupan masyarakat di Ngawi. Melalui kemitraan ini, kami berharap para petani dhuafa dan pelaku tani lokal bisa mandiri secara ekonomi dan tidak lagi terjebak dalam mahalnya modal produksi,” ungkap Rifki Nurdiansyah. Senada dengan hal tersebut, koordinator tim dari pihak UNS Solo, Bapak Ngatou Rohman, menekankan pentingnya hilirisasi riset kampus agar bisa dirasakan langsung oleh masyarakat bawah melalui program Teknologi Tepat Guna (TTG).
“Ini adalah wujud dari pengabdian masyarakat nyata dari UNS. Kampus tidak boleh menjadi menara gading. Kami membawa pengetahuan ilmiah dari ruang kelas langsung ke rumah-rumah petani melalui penyediaan edukasi dan alat bantu kerja yang konkret,” tambah Ngatou Rohman.
Foto dan narasi: Supriyatno









