Kesialan di Bulan Safar? Itu Cuma Hoax!

Ilustrasi AI : menampilkan seorang Muslim yang melangkah dengan cahaya Al-Qur’an dan ilmu, meninggalkan bayangan gelap mitos Safar yang penuh simbol kesialan. Jalan terang di depannya menggambarkan kebenaran, sementara sosok bayangan di belakangnya melambangkan takhayul yang ditinggalkan.

Tradisi mengaitkan Bulan Safar dengan kesialan berakar dari mitos. Dalam sejarahnya, Masyrakat Arab Jahiliyah menganggap Safar sebagai bulan penuh bala. Mereka enggan melakukan perjalanan, pernikahan ,dan kegiatan penting. Dalam ajaran Islam, pandangan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.

Mari kita luruskan bersama dengan mengembalikan keyakinan pada tauhid yang murni. Bahwa Allah SWT telah menetapkan rezeki, musibah, jodoh, dan ajal setiap hamba-Nya. Mitos maupun tanggal tertentu tidak memengaruhi hal tersebut. Dengan memahami hal ini, kita bisa menjalani setiap bulan termasuk Safar dengan hati yang tenang dan tetap produktif menjalankan aktivitas sehari-hari.

Hadis Rasulullah ﷺ tentang Tidak Adanya Pantangan di Bulan Safar

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata

“Tidak ada penyakit yang menular sendiri tanpa takdir Allah, tidak ada tanda (firasat) kesialan (dengan suatu apapun), tidak ada kecelakaan yang ditandai oleh suara burung malam (burung hantu), dan tidak ada pantangan di bulan Shafar” (HR Bukhari)

Kesialan di bulan Safar hanyalah mitos yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Allah SWT menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW, lalu beliau menyampaikan wahyu kepada umat Islam dalam bentuk mushaf. Umat muslim menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk sekaligus pedoman hidup yang mengarahkan setiap langkah mereka.

Meluruskan Keyakinan dengan Tauhid

Umat Islam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Quran sebagai pedoman hidup sehari-hari. Mereka menjadikan ayat Al-Quran sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi tantangan, sekaligus sebagai cahaya yang menuntun langkah di jalan kebenaran. Ketika muncul mitos tentang kesialan di Bulan Safar, umat muslim aktif merujuk pada Al-Quran dan hadis untuk meluruskan pemahaman tersebut. Dengan cara itu, mereka menolak hoaks dan memperkuat keyakinan bahwa setiap bulan adalah ciptaan Allah yang penuh keberkahan.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an Surat At-Taghabun ayat 11

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Di bulan Safar, umat Islam dianjurkan untuk melakukan beberapa amalan sunnah seperti berpuasa dan memperbanyak berzikir kepada Allah SWT.

Hal ini seperti firman Allah SWT dalam Surah Yunus ayat 107

“Jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikannya (kebaikan itu) kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maksiat dan Dosa adalah Sumber Kesialan

Seorang muslim harus memahami bahwa maksiat dan dosalah yang mendatangkan kesialan. Setiap dosa adalah penghalang turunnya rahmat Allah. Menjadikan sebab hati gelap, pikiran sempit, dan hidup kesulitan. Maksiat bisa menghapus keberkahan yang telah Allah berikan.

Dengan memperbanyak istighfar dan mempererat hubungan dengan Allah melalui zikir serta doa. Seorang mukmin yang mampu menjaga diri dari maksiat, semakin besar pula peluangnya untuk meraih keberkahan dalam setiap bulan yang ia jalani, termasuk bulan Safar.

Mari jadikan Bulan Safar sebagai ladang kebaikan dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk program Kemanusiaan. Yuk Infak untuk impian anak – anak Yatim dan kunjungi yatimmandiri.org yang terjamin legalitsnya. Setiap rupiah yang Anda titipkan, insya Allah menjadi tabungan pahala yang tak terputus.

Bagikan Artikel Ini :

Tinggalkan komentar


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses