Bersama Yatim Mandiri, Riski dan Salwa Menitipkan Kebaikan untuk Generasi Masa Depan
- account_circle Nadila Wulan Cahyani
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 12
- print Cetak

Donatur Yatim Mandiri Jember
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jember, YM News – Bagi drg. Dwi Riski Saputra, Sp.B.M.M. pendidikan bukan sekadar jalan untuk meraih cita-cita, tetapi juga pintu untuk memperbaiki kehidupan. Pria asal Sidoarjo yang kini merantau di Jember sebagai Dosen Universitas Jember dan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Maksilofasial ini percaya bahwa masa depan generasi muda dapat dibangun melalui pendidikan yang tepat. Bersama sang istri, Ns. Salwa Nirwanawati, S.Kep., M.Kep., yang juga berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Keperawatan Universitas Jember, ia berupaya mengambil bagian dalam ikhtiar tersebut melalui kepedulian kepada anak-anak yatim dan dhuafa.
Kedekatan Riski dan Salwa dengan Yatim Mandiri terbilang masih baru. Keduanya mulai mengenal Yatim Mandiri pada 2025 melalui seorang rekan. Seiring waktu, kepercayaan itu tumbuh setelah melihat secara langsung bagaimana Yatim Mandiri mendampingi anak-anak yatim dan dhuafa, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Bagi mereka, pembinaan yang menyeluruh menjadi bekal penting agar anak-anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Keputusan untuk berdonasi pun lahir dari keyakinan terhadap amanah yang dijalankan Yatim Mandiri. Riski melihat bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang dampaknya dapat dirasakan hingga masa depan. “Untuk memperbaiki kehidupan bisa dimulai dari pendidikan. Karena itu, menurut kami, membina anak-anak yatim dan dhuafa secara karakter maupun akademik adalah hal yang sangat baik,” ungkapnya.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi Salwa adalah ketika berkunjung dan melihat langsung aktivitas adik-adik binaan Yatim Mandiri. Suasana tersebut membawanya kembali pada kenangan masa kecil ketika ia pernah hidup di pesantren. Baginya, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kebiasaan baik perlu terus dijaga dan diwariskan agar tidak hilang oleh perubahan zaman. Nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan kepedulian menjadi bekal yang diharapkan dapat menemani adik-adik dalam perjalanan mereka menuju masa depan.
Ke depan, Riski dan Salwa berharap adik-adik binaan dapat terus mengikuti aturan dan pembinaan di asrama dengan baik. Menurut mereka, kedisiplinan bukan sekadar kewajiban, melainkan latihan untuk membentuk karakter yang akan berguna ketika mereka memasuki kehidupan yang lebih luas. Mereka juga berharap Yatim Mandiri dapat terus istiqomah dan amanah dalam menjalankan setiap program, sehingga semakin banyak anak yang memperoleh kesempatan untuk berkembang dan meraih cita-cita.
Riski dan Salwa meyakini, kontribusi yang diberikan melalui lembaga yang amanah dapat menjadi bagian dari ikhtiar mencetak generasi yang Rabbani dan mandiri. Dari kepedulian hari ini, ia berharap lahir generasi yang kelak tidak hanya mandiri tetapi juga memberi manfaat bagi sesama.
- Penulis: Nadila Wulan Cahyani

Saat ini belum ada komentar