Tradisi Berbuka Puasa Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat

sejarah-iftar-kisah-berbuka-puasa-rasulullah-yatim
Iftar, momen berbuka puasa, bukan sekadar menghilangkan lapar dan dahaga setelah seharian menahan diri. Ini adalah tradisi mulia yang kuat dalam sejarah Islam, bahkan sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Tradisi ini tidak hanya tentang makanan dan minuman, tetapi juga tentang makna kebersamaan, rasa syukur yang mendalam, dan kepedulian sosial yang diajarkan langsung oleh teladan terbaik kita. Melalui artikel ini, mari kita telusuri lebih dalam sejarah dan keutamaan di balik tradisi iftar yang penuh berkah, serta mengapa “Buka Puasa Yatim” menjadi amalan yang sangat dianjurkan.

Bagaimana Tradisi Iftar Dimulai di Masa Rasulullah ﷺ?

Tradisi iftar dimulai seiring dengan diwajibkannya ibadah puasa pada bulan Ramadhan, yakni pada tahun kedua Hijriyah. Sejak saat itu, Rasulullah ﷺ dan para sahabat mulai mengamalkan puasa wajib, dan tentu saja, momen berbuka puasa menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah harian mereka.

Mereka berbuka setelah matahari terbenam, sesuai syariat Islam yang berlaku, menandai berakhirnya menahan lapar dan dahaga.

Selanjutnya, momen ini bukan hanya jeda makan, melainkan juga awal dari persiapan untuk ibadah malam seperti shalat Tarawih. Konsep berbagi makanan saat iftar pun sudah menjadi bagian alami dari kehidupan mereka, secara otomatis mempererat tali persaudaraan sesama Muslim.

Para sahabat bahkan berlomba-lomba untuk memberi makan orang yang berpuasa, mencari pahala yang besar.

Lebih lanjut, Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang dari kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu suci.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi). Ini menunjukkan betapa pentingnya momen iftar dan bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang jelas sejak awal.

Apa Keutamaan Menyegerakan Berbuka Puasa dalam Islam?

Menyegerakan berbuka puasa adalah salah satu sunnah utama Rasulullah yang memiliki banyak keutamaan. Ini bukan sekadar tindakan terburu-buru, melainkan bentuk ketaatan terhadap perintah agama dan menunjukkan keyakinan penuh pada waktu yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk tidak menunda-nunda iftar, sebagaimana sabdanya, “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, kamu perlu memahami bahwa menyegerakan berbuka mencerminkan kesempurnaan iman dan keikhlasan dalam beribadah.

Di samping itu, tindakan ini membedakan Muslim dari kaum lain yang justru mengakhirkan berbuka. Dalam praktiknya, kamu bisa segera menyiapkan hidangan iftar sebelum waktu Maghrib tiba, sehingga saat adzan berkumandang, kamu dapat langsung berbuka tanpa menunda.

Hal ini juga memberikan kamu waktu yang cukup untuk beristirahat sebentar sebelum melaksanakan shalat Maghrib berjamaah, sebuah kebiasaan yang juga sangat dianjurkan.

Apa Saja Kebiasaan Rasulullah ﷺ Saat Berbuka Puasa?

Rasulullah memiliki kebiasaan sederhana namun penuh makna saat berbuka puasa, yaitu mendahulukan kurma atau air putih.

Kamu mungkin bertanya-tanya, apa hikmah di balik pilihan ini? Kurma memberikan energi instan setelah seharian berpuasa, mengembalikan gula darah yang dibutuhkan tubuh dengan cepat, sementara air membersihkan kerongkongan dan mengembalikan cairan tubuh.

Namun, ini bukan hanya masalah nutrisi, tapi juga sunnah yang membawa keberkahan dan meneladani kesederhanaan. Setelah berbuka dengan kurma atau air, Rasulullah ﷺ akan melaksanakan shalat Maghrib terlebih dahulu sebelum menyantap makan malam yang lebih lengkap.

Anas bin Malik RA berkata, “Rasulullah ﷺ biasa berbuka puasa dengan beberapa kurma basah sebelum shalat. Jika tidak ada kurma basah, beliau berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada kurma kering, beliau berbuka dengan beberapa teguk air.” (HR. Abu Daud).

Doa Apa yang Dianjurkan Saat Berbuka Puasa?

Momen berbuka puasa adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak melewatkan kesempatan emas ini.

Doa yang paling umum dan dianjurkan untuk dibaca saat berbuka adalah:

“ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ”

(Dzahabadh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah).

Artinya, “Rasa haus telah hilang, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah.” (HR. Abu Daud).

Doa ini mencerminkan rasa syukur atas nikmat berbuka dan harapan akan pahala yang telah dijanjikan.

Selain itu, kamu juga bisa memanjatkan doa-doa lain sesuai hajat dan keinginanmu, sebab orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan ditolak hingga ia berbuka.

Jadi, manfaatkanlah momen iftar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan, serta keberkahan bagi diri sendiri dan orang-orang yang kamu sayangi, termasuk anak-anak yatim yang mungkin sedang kamu bantu hari ini.

Mengapa Berbuka Puasa Bersama Yatim Sangat Dianjurkan?

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya berbuka puasa tanpa keluarga di sisi, atau bahkan tanpa hidangan yang layak di meja?

Itulah kenyataan yang mungkin dihadapi banyak anak yatim di luar sana.

Oleh karena itu, berbuka puasa dengan anak yatim adalah salah satu amalan paling mulia yang bisa kamu lakukan. Ini bukan hanya memberi mereka makanan untuk mengisi perut, tapi juga memberikan kehangatan hati, harapan, dan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak sendiri di dunia ini.

Rasulullah bersabda, “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini,” seraya beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari).

Bahkan, Al-Qur’an pun menegaskan pentingnya menyantuni yatim, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ma’un: 1-3, “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Bagaimana Berbagi Kebahagiaan Iftar dengan Anak Yatim Memiliki Pahalanya Sendiri?

Berbagi kebahagiaan berbuka puasa dengan anak yatim tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga mendatangkan pahala yang berlipat ganda dan keberkahan yang tak terhingga.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. At-Tirmidzi).

Bayangkan, kamu bisa mendapatkan pahala puasa tanpa harus berpuasa itu sendiri, hanya dengan memberi makan mereka yang berpuasa, apalagi anak yatim yang sangat membutuhkan uluran tangan.

Oleh karena itu, setiap suap makanan yang kamu sumbangkan untuk Buka Puasa anak yatim akan menjadi catatan amal kebaikan yang tak terputus bagi kamu.

Bagaimana Kita Bisa Mengikuti Jejak Kebaikan Para Sahabat dalam momen Buka Puasa?

Setelah memahami sejarah dan keutamaan berbuka puasa, terutama dengan anak yatim, langkah selanjutnya adalah bertindak nyata dengan meniru kedermawanan para sahabat.

Para sahabat Nabi senantiasa berbagi, bahkan dengan makanan yang terbatas, karena mereka memahami bahwa memberi adalah salah satu bentuk ibadah terbaik. Mereka tidak menunggu punya banyak harta untuk berbuat kebaikan, tapi memanfaatkan apa yang ada untuk menolong sesama yang membutuhkan.

Sama halnya dengan kamu, kamu bisa memulai dengan menyisihkan sebagian rezekimu untuk ikut Program  “Buka Puasa Yatim” melalui lembaga terpercaya seperti Yatim Mandiri. Dengan demikian, kamu tidak hanya memberi makan, tapi juga memberikan senyum, kehangatan, dan harapan kepada mereka yang sangat membutuhkan perhatian.

Singkatnya, kebaikan sekecil apa pun yang kamu lakukan bisa membawa dampak besar bagi kehidupan mereka.

Ringkasan

  • Iftar adalah tradisi mulia yang bersumber pada masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat, dimulai sejak tahun kedua Hijriyah, menekankan kesyukuran dan kepedulian sosial, serta disunnahkan untuk disegerakan dengan kurma atau air putih.
  • Menyegerakan berbuka puasa adalah sunnah utama Rasulullah ﷺ yang menunjukkan ketaatan dan kesempurnaan iman, membedakan Muslim dari kaum lain, dan mendatangkan kebaikan.
  • Berbagi iftar, khususnya dengan anak yatim, adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, mendatangkan pahala berlipat ganda, meneladani Rasulullah ﷺ, dan memberikan kebahagiaan serta harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Penutup

Kamu pasti ingin setiap rupiah donasimu termanfaatkan dengan baik dan tepat sasaran. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih lembaga yang memiliki rekam jejak yang jelas, transparan, dan akuntabel.

Yatim Mandiri adalah salah satu lembaga yang sudah teruji kredibilitasnya dalam mengelola amanah donasi untuk anak yatim di seluruh Indonesia. Jadi, kamu bisa dengan tenang menyalurkan donasimu melalui platform yang terpercaya untuk memberikan iftar terbaik bagi anak-anak yatim.

Bagikan Artikel Ini :

Picture of Firman Alex Ramadani

Firman Alex Ramadani

Tentang Penulis: Seorang Digital Marketing yang Jago Ngiklan. Instagram @alexf.ramadani

Tinggalkan komentar


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses