Ini Kisah di Balik Peristiwa Isra’ Mi’raj dan Keutamaannya

seseorang-berjalan-di-padang-pasir

Peringatan Isra Mi’raj adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah Islam. Peristiwa luar biasa ini dimulai ketika waktu malam hari saat Rasulullah ﷺ berangkat dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, dilanjutkan dengan naiknya beliau ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Kisah ini membawa pesan terbesar berupa kewajiban shalat lima waktu.

Kamu mungkin mencari film-film yang secara spesifik menampilkan keajaiban Isra Mi’raj. Faktanya, jarang sekali ada tontonan layar lebar yang berani menampilkan visualisasi langsung. Namun, banyak film bagus mengenai sejarah Islam yang sukses menangkap semangat keimanan, keteguhan, dan amal saleh yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ setelah peristiwa besar tersebut.

Inti pelajaran dari sejarah ini adalah bagaimana keimanan harus diterjemahkan menjadi aksi dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya dengan bagaimana kita mengenang sejarah, kita juga harus mengaplikasikannya. Di sisi lain, momen bersejarah ini mengingatkan kita pada keutamaan hari Jumat, hari terbaik untuk menunaikan Sedekah Jumat, khususnya kepada anak-anak yatim.

Mengapa Isra Mi’raj adalah Ujian Keimanan Terberat bagi Umat Islam?

Jawabannya adalah karena Isra Mi’raj menuntut keyakinan mutlak pada hal yang tidak masuk akal oleh logika manusia. Ini adalah ujian keikhlasan. Perjalanan yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, ditempuh Rasulullah ﷺ hanya dalam satu malam. Setelah Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwanya, sebagian besar orang Quraisy justru mencemooh dan meninggalkannya. Bahkan, beberapa orang yang sudah beriman sempat goyah.

Hanya sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung membenarkan tanpa ragu. Abu Bakar berkata, “Jika dia (Muhammad) yang mengatakannya, maka itu benar.” Ini adalah inti dari pelajaran sejarah tersebut: keteguhan hati di tengah fitnah. Maka dari itu, setelah kita mempelajari sejarah, kita dianjurkan untuk terus meningkatkan amal kebaikan, karena iman sejati perlu pembuktian melalui perbuatan.

Bagaimana Shalat, Hasil Utama Isra Mi’raj, Berhubungan dengan Kebaikan Sosial?

Peristiwa Isra Mi’raj berakhir dengan penetapan shalat sebagai tiang agama. Shalat adalah hubungan vertikal, komunikasi langsung kita dengan Allah SWT. Tidak hanya itu, Allah SWT pun menegaskan fungsi shalat. Allah berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 45: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.”

Sejalan dengan itu, ketika sudah tahu arti shalat sebenarnya, secara tidak langsung hati kita menjadi peka terhadap penderitaan orang lain. Kebaikan sosial, seperti bersedekah, adalah hubungan horizontal kita kepada sesama. Shalat yang benar akan menuntun kamu pada kepedulian. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Oleh karena itu, memahami sejarah harus beriringan dengan melaksanakan perintah kebaikan, baik secara ritual maupun sosial.

Apa Keistimewaan Hari Jumat Dibanding Hari Lain untuk Bersedekah?

Hari Jumat adalah hari yang istimewa, bahkan disebut sebagai Sayyidul Ayyam (penghulu segala hari). Lebih lanjut, kamu harus tahu bahwa kebaikan yang kamu lakukan pada hari Jumat memiliki nilai pahala yang berlipat ganda. Mengapa begitu? Karena pada hari ini, Allah SWT menyempurnakan penciptaan Adam, dan ada waktu mustajab di mana doa tidak akan ditolak.

Bahkan, sama halnya dengan yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i rahimahullah, beliau sangat menganjurkan untuk memperbanyak sedekah pada hari Jumat, karena fadhilahnya besar dan barokahnya melimpah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Jumat adalah hari yang agung dan mulia di sisi Allah.” (HR. Ahmad). Singkatnya, kamu memiliki peluang emas setiap minggunya untuk menuai pahala berlimpah hanya dengan berbagi sedikit rezeki. Dengan demikian, kamu tidak hanya menikmati sejarah lewat layar atau mendengarkan ceramah, tetapi juga menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari melalui aksi nyata.

Selain Rasulullah ﷺ Yatim, Apa Dalil Kuat yang Mendorong Kita Berbagi dengan Anak Yatim?

Perlu ditekankan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri adalah seorang anak yatim. Beliau tumbuh tanpa ayah sejak dalam kandungan. Hal ini membuat beliau sangat memahami kesulitan dan kebutuhan anak yatim. Tidak hanya itu, beliau juga menganjurkan kita untuk memuliakan mereka.

Dalil kuat yang paling sering kita dengar adalah hadis masyhur yang menjanjikan surga. Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,” kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkannya sedikit. (HR. Bukhari). Dengan kata lain, menafkahi dan menyantuni anak yatim adalah tiket VIP kamu untuk membersamai Rasulullah ﷺ di surga. Padahal, hanya dengan memberi sedikit perhatian dan nafkah, kamu sudah mendapatkan janji sebesar itu.

Mengapa Kisah Nabi Jarang Divisualisasikan di Film dan Apa Pelajaran Terbaiknya?

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, sensitivitas dan keagungan Rasulullah ﷺ menyebabkan para ulama umumnya melarang penggambaran visual Nabi. Namun, jangan jadikan ketiadaan film langsung sebagai alasan kamu untuk tidak mengambil pelajaran. Sebaliknya, film-film epik sejarah yang menceritakan periode awal kenabian dan perjuangan para sahabat, seperti Ar-Risalah (The Message) atau serial tentang Umar bin Khattab, memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Pelajaran terbaiknya adalah fokus pada aksi dan ketegasan iman, bukan pada visualisasi. Tontonan tersebut memperlihatkan betapa teguhnya para sahabat menghadapi penderitaan demi iman mereka, sebuah keteguhan yang didukung oleh kepastian janji setelah Isra Mi’raj. Oleh karena itu, pelajaran sejarah seperti ini seharusnya membuat kita termotivasi untuk melakukan amal kebaikan di dunia. Yang terpenting, pada dasarnya, shalat adalah kunci dan bersedekah kepada yang membutuhkan, terutama anak yatim.

Ringkasan

  1. Isra’ Mi’raj terjadi pada ‘Aamul Huzni (Tahun Kesedihan) sebagai mukjizat dan penghibur diri langsung dari Allah SWT bagi Nabi Muhammad ﷺ yang menghadapi kehilangan besar dan beliau sedang merasa sangat sedih.
  2. Peristiwa ini meliputi perjalanan malam (Isra’) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa menunggangi Buraq, dilanjutkan dengan kenaikan (Mi’raj) menembus tujuh langit hingga Sidratul Muntaha. Ini menegaskan bahwa kedudukan beliau sebagai penutup dan pemimpin spiritual para Nabi.
  3. Inti dari Mi’raj adalah penetapan kewajiban Shalat lima waktu sehari semalam, yang menjadi tiang agama serta komunikasi langsung antara hamba dengan Penciptanya. Yang mana setiap pelaksanaan Shalat lima waktu memiliki pahala setara dengan 50 kali Shalat.

Penutup

Setelah terinspirasi oleh kisah sejarah dan kemuliaan Rasulullah ﷺ, jangan tunda lagi kebaikanmu. Intinya, pahala kebaikan di hari Jumat itu luar biasa. Mari jadikan setiap hari Jumatmu lebih berkah dengan berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan, khususnya anak-anak yatim yang menanti uluran tanganmu. Kunjungi donasi.yatimmandiri.org sekarang juga dan tunaikan Sedekah Jumat terbaikmu.

Bagikan Artikel Ini :

Picture of Firman Alex Ramadani

Firman Alex Ramadani

Tentang Penulis: Seorang Digital Marketing yang Jago Ngiklan. Instagram @alexf.ramadani

Tinggalkan komentar


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses