Sidoarjo, YM News – Kehadiran tenaga pendidik baru di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar menambah kuantitas sumber daya manusia, melainkan menjadi suntikan energi dan gagasan segar bagi kemajuan institusi. Pesan mendalam inilah yang menjadi sorotan utama dalam agenda pembekalan dosen baru Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM) yang digelar hari ini, Selasa, 26 Mei 2026.
Dalam arahannya, Rektor ITICM, Dr. Sudoto, menegaskan bahwa profesi dosen memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar pekerjaan formal. Baginya, menjadi seorang dosen adalah sebuah amanah intelektual sekaligus amanah moral.
“Dosen bagi ITICM adalah ujung tombak pendidikan tinggi, karena di ruang-ruang kelas inilah lahir suatu generasi masa depan bagi bangsa. Generasi inilah yang nantinya akan menentukan arah pembangunan,” tegas Dr. Sudoto.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh dosen baru untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian inovatif, serta pengabdian kepada masyarakat, dengan penuh kepedulian. Dosen dituntut untuk tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi pembimbing dan teladan yang mampu memotivasi mahasiswa untuk terus berkembang.
Lebih lanjut, Dr. Sudoto menaruh harapan besar agar para dosen senantiasa meningkatkan kompetensinya, baik di bidang akademik, penguasaan teknologi pembelajaran, maupun pembentukan karakter.
“Semoga para dosen baru ini menjadikan ITICM sebagai rumah kedua yang menjadi ladang amalan jariyah, sebagai bekal kita di kemudian hari. Menjalankan amanah Allah yaitu mengamalkan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Selamat bergabung, selamat berkarya, semoga kita bisa mengantarkan anak didik kita menjadi insan yang sukses,” pesannya penuh harap.
Adaptasi AI dan Spirit ‘Rumah Kita’
Senada dengan Rektor, Wakil Rektor ITICM, Prof. Dr. Ir. Julianus Hutabarat, M.S.I.E. turut memberikan suntikan motivasi. Mengutip pesan filosofis dari lagu legendaris God Bless berjudul ‘Rumah Kita’, Julianus mengajak para dosen untuk menciptakan ekosistem kampus yang hangat dan nyaman.
“Mari kita bangun rumah kita ini menjadi tempat yang sejuk dan nyaman. Kita bina interaksi yang baik tanpa ada gap (jarak). Interaksi nomor satu adalah pelayanan kepada mahasiswa. Kita harus mampu memberikan pelayanan terbaik untuk mereka,” ujar Julianus.
Untuk memberikan pelayanan akademik yang prima, persiapan materi kuliah menjadi hal yang mutlak. Julianus mengingatkan agar dosen tidak menggunakan sistem ‘kebut semalam’. Menariknya, ia sangat mendorong para dosen untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi mutakhir, salah satunya dengan memanfaatkan akal imitasi (AI) untuk menyusun materi ajar yang terstruktur dan menarik.
“Mempersiapkan materi kuliah itu butuh waktu. Sekarang ada bantuan AI, saya pun belajar menggunakan ChatGPT dan Gamma. Perpaduan dua AI itu sangat membantu, sekejap materi sudah bisa terstruktur dengan bagus. Kalau kita tidak memanfaatkan itu, kita akan tertinggal dari mahasiswa,” bebernya.
Selain kewajiban mengajar, Julianus juga mengingatkan pentingnya pemenuhan tertib administrasi, seperti penyusunan Laporan Kinerja Dosen (LKD) seusai mendapatkan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), kewajiban menyusun roadmap penelitian kolaboratif, hingga pengabdian masyarakat.
Para dosen juga diwajibkan untuk aktif berkontribusi dalam kegiatan insidental penunjang institusi, seperti kepanitiaan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), PKKMB, hingga wisuda.
“Bapak dan ibu juga akan menjadi dosen wali. Ada tanggung jawab besar untuk membangkitkan inovasi mahasiswa. Sekali lagi, buatlah suasana senyaman mungkin, jadikan kampus ini rumah kedua. Fasilitas ruangan kita bagus, ber-AC, toilet bersih, manfaatkan semuanya dengan baik untuk membesarkan ITICM,” pungkas Julianus.
Foto dan narasi: Arvendo Mahardika, S.Pd., M.M., Dosen Bisnis Digital ITICM









