Zakat Perusahaan

Zakat Perusahaan

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat Prof Faishal Haq. Saya mohon penjelasan mengenai zakat perusahaan dan zakat asuransi syariah. Pertanyaannya adalah:

1.  Apakah yang dimaksud dengan zakat perusahaan itu?

2.  Apa saja yang harus dizakati terkait dengan zakat perusahaan itu? Dan berapakah besarannya?

3.  Apa pula yang dimaksud dengan zakat asuransi syariah? Saya belum tahu tentang zakat asuransi syariah ini.

Demikian pertanyaan dari saya, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Prof Faishal Haq.

Wassalam,

Bu Rahmi

Yogyakarta.-

Jawaban Prof Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Ibu Rahmi yang saya hormati, dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat pasal 1 (5) dinyatakan bahwa Muzaki adalah seorang muslim atau badan usaha yang berkewajiban menunaikan zakat. Jadi jelas menurut Undang-Undang tersebut bahwa yang wajib menunaikan zakat adalah orang muslim yang mempunyai simpanan yang sudah mencapai senisob (sekitar harga 85 gram emas) dan perusahaan yang dimiliki oleh seorang muslim. Hal ini bisa dilihat dalam surah at-Taubah (9) ayat 34 dan 35: “... dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah (tidak dikeluarkan zakatnya), maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."

Jika sebuah perusahaan modal awalnya di atas 50 juta rupiah, kemudian berkembang sampai dengan 200 juta rupiah, umpamanya, maka pada putaran tahun pertama perusahaan itu harus mengeluarkan zakat perusahaan sebesar 2,5 % sesuai dengan hadis Nabi bahwa zakat modal perniagaan sama dengan zakat emas.

Adapun yang wajib dizakati adalah semua bahan-bahan yang siap diproduksi dan hasil olahan yang siap dipasarkan, semuanya dirupiahkan lalu dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 % karena seorang shahabat Nabi yang bernama Samurah bin Jundub mengatakan bahwa Nabi menyuruh kami mengeluarkan zakat dari barang-barang yang kami sediakan untuk perdagangan (HR Abu Dawud dari Samurah bin Jundub).

Jika seseorang mengikuti asuransi pendidikan, umpamanya dan telah membayar premi beberapa bulan serta jumlahnya seharga emas 85 gram, maka ia harus mengeluarkan zakat dari uang tanggungan yang telah dibayarkan ke perusahaan asuransi sebesar 2,5 % karena orang itu dianggap telah mempunyai simpanan sekitar 50 juta rupiah. Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa: “Kalian tidak kena kewajiban apa-apa kecuali kalian mempunyai 20 dinar (sekitar 50 juta rupiah), jika kalian mempunyai 20 dinar dan sudah dimiliki satu tahun, maka zakatnya setengah dinar atau 2,5 %”.