Syukur, ‘Memperpanjang’ Nikmat

Syukur, ‘Memperpanjang’ Nikmat

(Oleh: Oki Aryono) - Secara fitrah, manusia bergembira jika menerima pemberian atau hadiah. Apakah itu pemberian berupa materi maupun non materi. Apalagi jika pemberian itu tanpa pamrih apapun dari pemberinya. Sejak awal, Allah SWT telah menjelaskan sifat manusia ini. “Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakan aku’.” (QS. Al Fajr: 15)

  Ada dua hal yang harus dipahami setiap insan ketika mendapat kenikmatan atau kesenangan. Yaitu respon kita terhadap sang pemberi dan pemeliharaan kita terhadap zat pemberian itu.

  Pertama, seorang mukmin selalu bersyukur atas segala pemberian Tuhan, kecil maupun besar bentuk anugerah yang ia terima. Itulah respon yang baik. Jika mendapat kemalangan, ia merespon dengan kesabaran. Itu pun respon yang baik pula. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan mukmin itu. Jika mendapat kebaikan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapat musibah, ia bersabar. Itu juga baik baginya.”

  Sikap syukur ini ‘mengundang’ pemberian berikutnya. Allah SWT telah berjanji, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7)  Dan syukur ini bukti dari keimanan seseorang. Karena orang yang tidak bersyukur atau berterima kasih disebut kufur. “…Tetapi jika mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

  Kedua, pemeliharaan kita terhadap zat yang kita terima sebagai pemberian. Bentuk dari syukur antara lain dengan merawat pemberian itu dengan baik. Karena setiap nikmat yang kita terima selalu ada ujian yang mengiringinya. Misalnya jika kita memiliki mobil, maka kita harus merawat mobil itu agar awet. Sebaliknya, jika enggan merawat atau bahkan menyia-nyiakannya, pasti mobil itu cepat rusak. Jika demikian, tentu kita tak akan bisa memanfaatkannya lagi.

  Semakin rajin kita merawat nikmat itu, makin lama manfaatnya bagi kita. Itulah salah satu (di antara berjuta) makna syukur. Allah akan memperpanjang atau dengan kata lain menambah kenikmatan pemberian itu. Sehingga kita benar-benar mampu memanfaatkannya lebih lama.

  Orang mukmin tidak membedakan pemberian itu besar atau kecil. Seorang mukmin akan memperhatikan siapa pemilik sesungguhnya dari nikmat itu. Meski seringkali kita menerima pemberian dari orang lain, namun hakikatnya, seluruh alam raya dan seisinya bahkan diri kita ini adalah pemberian Allah SWT.

  Orang lain adalah pemilik yang nisbi. Pemilik mutlak adalah Allah Ta’ala. Sebagai adab yang baik, wajib bagi kita untuk berterima kasih kepada orang lain yang memberi kita. Namun, adab seorang hamba adalah mengakui semua ini hanyalah pemberianNya atas kuasaNya semata.

  Kita harus memahami bahwa semua ini adalah titipan Allah, Sang Khaliq. Maka sikap sabarlah hal terbaik, jika Allah mengambilnya kembali. Semua ini dari Allah dan akan kembali dari Allah. Sebelum Allah mengambilnya kembali, maka kita harus paham betul untuk apa Allah menitipkan segala anugerahNya kepada kita. Seperti apa pemanfaatannya selama nikmat itu berada dalam genggaman kita.

  Cara pemanfaatan telah dicontohkan manusia teladan, Rasulullah Muhammad SAW. Maka apakah pemberian itu dalam rangka ketaatan kepadaNya semata atau hanya untuk kesenangan duniawi saja. Pepatah Arab menyatakan (artinya): yang halal akan di-hisab dan yang haram akan diazab.(*)