Santri dan Hegemoni Peran Dalam Masyarakat (Di Era Digital)

Santri dan Hegemoni Peran Dalam Masyarakat (Di Era Digital)

(Oleh : Drs. Usman Daud, MA)“Wahai ayah ibu, izinkanlah daku untuk menuntut ilmu.Mondok di kota santri, banyak ulama kyai mengajarkan ilmu agama.Pulang pergi mengaji, mengkaji kitab suci.”

Syair di atas walau tidak sempurna, tapi bait itu tidaklah asing di telinga kita. Sering didendangkan oleh para biduwanita yang menggambarkan model asli perwatakan kita yang dibangun melalui sebuah institusi dengan model kekentalan faham asli Indonesia yang sarat dengan pesan-pesan moral terpenting, dan dibangun atas dasar management by heart. Itulah pola pendidikan pesantren tradisional (baca: salafiyah) yang menjadikan kyai sebagai sentral panutan yang sulit untuk dicari gantinya. Dan juga menjadi decision maker terhadap segala kebijakan mulai dari tidur sampai tidur lagi.

Hampir terdapat kesepakatan di kalangan para ahli bahwa pendidikan merupakan faktor penentu yang paling dominan bagi kemajuan dan kemunduran suatu bangsa. Berbagai persoalan rumit yang dihadapi suatu bangsa pasti dapat dilacak akar-akarnya pada problem yang terjadi dalam dunia pendidikannya. Memang ia bukan satu-satunya faktor. Tetapi, setiap persoalan kompleks, seperti krisis multidimensi yang kini tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia, dapat dipastikan sebabnya adalah kompleks juga. Membincangkan pendidikan dalam konteks Indonesia tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai pendidikan pesantren; sebuah sistem pendidikan yang memiliki akar historis dalam tradisi dan budaya bangsa ini. Sehingga, pesantren disebut sebagai sistem pendidikan yang indigenous.

Dalam perjalanannya yang panjang, lembaga pendidikan pesantren telah berkiprah secara signifikan pada zaman-zaman yang dilaluinya, baik sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran Islam, sebagai kubu pertahanan Islam, sebagai lembaga perjuangan dan dakwah, maupun sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Kiprah positif semacam ini harus tetap dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Tetapi persoalannya adalah bagaimana hal itu dilakukan ketika berhadapan dengan tantangan yang semakin rumit dan perubahan yang berlangsung begitu cepat sebagai dampak dari modernisasi. Ini kata KH. Abdullah Syukri Zarkasyi MA dalam salah satu rubrik ilmiah tentang pendidikan pesantren dan tantangan akan muncul dari era digital dan serba instan.

Kata beliau selanjutnya, “Secara umum pesantren atau pondok didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai sentral figurnya dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.” Sebagai lembaga yang mengintegrasikan seluruh pusat pendidikan, pendidikan pesantren bersifat total, mencakup seluruh bidang kecakapan anak didik, baik spiritual (spiritual quotient), intelektual (intellectual quotient), maupun moral-emosional (emotional quotient). Untuk itu, lingkungan pesantren secara keseluruhannya adalah lingkungan yang dirancang untuk kepentingan pendidikan. Sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri, bahkan juga seluruh penghuni pesantren, adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan cara ini pesantren telah mewujudkan sebuah masyarakat belajar yang kini dikenal dengan istilah learning society.

Demikian pula ketika proses penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di dunia pesantren dicermati secara lebih mendalam dan kemudian dicoba dibaca dengan menggunakan paradigma belajar (learning paradigm) yang lebih modern sebagaimana dirumuskan dalam visi pendidikan menuju abad 21, akan ditemukan bahwa proses-proses belajar modern tersebut bukanlah sesuatu yang asing dalam pendidikan pesantren yang tradisional itu. Pengabdian masyarakat menjadi salah satu misi andalan para santri dan ini factual, hingga sepak terjang para santri banyak yang ditiru dalam pola tingkah keagamaan, tetapi mereka juga melek terhadap perkembangan teknologi. Walau begitu, tidak sedikit dari para santri yang dengan kendali pada era digital ini terjebak dalam pola pikir yang lebih mengarah kepada pemikiran liberal yang berujung pada penolakan akan teks-teks keagamaan yang dianggap menghambat kemajuan dan perkembangan pemikiran di era global. Prinsipnya adalah “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di atas derajat orang-orang bodoh”. Wallahu a’lam.