Rumah Makan Ayam Bakar H. Nur, Tangerang - Sedekah Memperlancar Usaha

  • Rumah Makan Ayam Bakar H. Nur, Tangerang - Sedekah Memperlancar  Usaha
  • Rumah Makan Ayam Bakar H. Nur, Tangerang - Sedekah Memperlancar  Usaha

Tak ada yang tak mungkin terjadi bila kita berusaha. Tentunya dengan diiringi doa dan sedekah. Itulah yang dirasakan oleh Munti Kumayani, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar H. Nur Tangerang.  Bersama almarhum suaminya, Haji Nur, Munti merintis usaha Rumah Makan Ayam Bakar H. Nur dari nol. “Pada awalnya belum berbentuk rumah makan seperti sekarang. Kami mengawalinya pada tahun 1990. Dari sebuah warung pecel lele di pinggir jalan,” kenang perempuan yang akrab disapa Munti ini.

Pada 1990, Munti yang baru saja menikah memutuskan untuk hijrah dari Lamongan ke Tangerang. Sesampainya di Tangerang, Munti dan sang suami memutuskan untuk membuka usaha pecel lele. “Saat itu makanan penyetan dan pecel lele masih sangat jarang di Tangerang. Mungkin karena unik dan jarang jadi pelanggan cukup ramai,” kenangnya. 

Pelan namun pasti, omzet harian Munti yang awalnya hanya sekitar Rp 25.000 sampai Rp 30.000 meningkat sampai kisaran Rp 200.000 hingga Rp 500.000 per hari. “Dari yang memasak sampai jualan kami jalani berdua. Saya dan suami. Alhamdulillah, meski begitu omzet bisa terus meningkat dan pelanggan makin banyak,” ujarnya.

Makin berkembangnya usaha pecel lele ini membuat Munti  dan sang suami berkeinginan untuk memindahkan usaha pecel lelenya ini di sebuah ruko. “Karena mulai dikenal saya ditawari untuk kontrak di sebuah ruko. Saat itu tahun 1997. Baru berjalan sebentar, lalu Indonesia dilanda krisis moneter,” jelasnya. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tak terkendali saat itu, Munti dan sang suami masih diberi rezeki oleh Allah SWT. “Alhamdulillah, di tengah krismon pun usaha kami masih jalan terus,” tambahnya. 

Harga kontrakan yang makin mahal membuat Munti dan sang suami mencari ide agar bisa menambah penghasilan. “Harga kontrak saat itu 1 tahun sampai Rp 2.000.000. Sangat mahal. Sehingga kami berpikir untuk menambah menu. Setelah coba-coba akhirnya menemukan menu ayam bakar,” paparnya.

Tahun 2000, Rumah Makan Ayam Bakar H. Nur resmi dibuka. Tepat setelah sepuluh tahun sebelumnya Munti membuka usaha pecel lele. Meski menggunakan nama Rumah Makan Ayam Bakar H. Nur, namun Munti tidak melupakan menu andalan sejak dirinya pertama kali usaha, pecel lele. “Karena kami buka sudah lama sekali, jadi pelanggan - pelanggan lama banyak juga yang masih sering mampir. Bahkan sampai sekarang ada yang dulu langganan kita masih sekolah dasar sekarang dia sudah kuliah atau bahkan berkeluarga,” papar perempuan dengan tiga orang anak ini.

Menu andalan pecel lele pun masih tersedia di rumah makan ini. Namun, seiring berjalannya waktu, menu andalan pun berubah menjadi nasi kotak ayam bakar. Dengan dibantu oleh 4 orang pegawainya, Munti siap menerima berbagai pesanan nasi kotak untuk berbagai acara. “Biasanya untuk kegiatan hajatan, sunatan, atau dari perkantoran,” tambahnya.

Dengan makin berkembang usahanya ini, tak membuat Munti lupa untuk menyisihkan sebagian rezekinya untuk mereka yang membutuhkan. Munti menyadari berbagai keajaiban dari bersedekah itu nyata. Salah satu buktinya adalah dirinya bisa membeli rumah pada tahun 2000. Baru pada 2008, dirinya mengenal Yatim Mandiri. “Kalau ada yang mengajak saya untuk bersedekah saya sangat tidak keberatan. Pertama dulu memang sedikit, namun saya langsung merasakan banyak keberkahan,” kenang Munti.

Perlahan-lahan, Munti pun tak segan untuk menambah jumlah uang yang ia sedekahkan. Allah pun menggantinya dengan rezeki yang lebih melimpah lagi. “Alhamdulillah, anak-anak saya semua bisa kuliah. Kalau dinalar mungkin tidak menyangka rezeki ini datangnya dari mana. Tapi pasti dari Allah,” paparnya. Tak hanya itu, Munti juga merasakan kedamaian dan ketenangan hati setelah rutin bersedekah. “Rasanya luar biasa damai dan tenang. Tidak ada beban sama sekali,”ujarnya.

Munti juga tak malu untuk mengajak teman-teman, keluarga, serta anaknya untuk turut menjadi donatur Yatim Mandiri. “Bahkan saya minta ke Zisco Yatim Mandiri kupon Ramadhan untuk saya bagikan di pasar. Saya ajak orang-orang yang saya temui di pasar. Kenapa harus malu untuk berbuat kebaikan?” tutupnya. (grc)