Ramadhan, Sang Tamu Agung

Ramadhan, Sang Tamu Agung

(Oleh: Mahmud Budi Setiawan) - THALHAH bin Ubaidillah RA menceritakan kisah menarik mengenai pentingnya persiapan menuju Ramadhan. Alkisah, ada dua saudara dari suku Baly yang datang menjumpai Rasulullah SAW. Keduanya sama-sama memeluk Islam. Meski demikian, yang satu lebih giat dan sungguh-sungguh.

  Saat ada kesempatan berjihad di medan perang, saudara yang lebih giat ini turut berjuang. Pada akhirnya ia gugur di medan jihad. Sedangkan saudara satunya tetap hidup, dan setahun kemudian ia baru wafat.

  Anehnya, saat Thalhah RA sedang tertidur, ia bermimpi: saudara yang wafat terakhir, ternyata lebih dahulu masuk surga. Padahal di mata orang, dinilai dari kesungguhannya, masih kalah dibanding dengan saudara pertamanya yang telah syahid.

  Ketika kisah ini diceritakan Thalhah kepada tetangga esok hari, mereka merasa heran dan heboh dengan mimpi yang dianggap aneh ini. Untuk mengobati rasa penasaran, diceritakanlah mimpi ini kepada Rasulullah SAW.

  “Apa yang membuat kalian heran?” tanya Nabi SAW kepada mereka yang dirundung rasa takjub. Menurut mereka, yang pertama lebih giat daripada yang kedua, dan lebih dulu gugur syahid. Lalu bagaimana mungkin, yang terlebih dulu masuk surga adalah yang kedua.

  Nabi pun menjawab rahasia di balik keheranan mereka semua. Pertama, ia masih hidup selama setahun. Kedua, dalam setahun itu dirinya menjumpai Ramadhan kemudian berpuasa dan (selama setahun) begitu giat menunaikan shalat, sekian banyak sujud. Dengan kedua alasan tersebut, Nabi memungkasi, “Jarak antara keduanya lebih jauh daripada langit dan bumi.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah).

   Kisah singkat ini memberikan beberapa poin penting terkait persiapan menuju bulan Ramadhan: Pertama, kelebihan umur yang dimiliki agar dimanfaatkan sungguh-sungguh untuk amal kebaikan. Umur yang lebih panjang, jika digunakan untuk amal yang baik, maka akan menjadikannya manusia terbaik.

  Sebagaimana seorang Arab Badui yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang umurnya panjang sedangkan amalnya bagus.” (HR. Tirmidzi).

  Kedua, sungguh beruntung orang yang masih bisa menjumpai Ramadhan. Dan saat menjumpai Ramadhan, waktunya tidak disia-siakan begitu saja, tapi dipergunakan untuk beribadah (seperti: puasa dan shalat).

  Ketiga, gambaran Nabi mengenenai keduanya melebihi jarak antara langit dan bumi. Secara tersirat menunjukkan, bahwa dalam waktu setahun itu ia benar-benar menyiapkan diri untuk menyambut Ramadhan. Ketika datang Ramadhan, dirinya pun sudah siap dalam menyambut tamu agung ini.

  Kisah lain yang masih berkaitan erat dengan tema ini, menurut penuturan Mu’alla bin Fadhl, para ulama salaf mempunyai kebiasaan menarik: enam bulan sebelum Ramadhan mereka berdoa kepada Allah agar diperjumpakan dengan Ramadhan. Enam bulan setelahnya, mereka berdoa agar amalan di bulan Ramadhan diterima oleh Allah (Affani, Nidaa al-Rayyaan, 164). Enam bulan sebelum Ramadhan mereka sudah mempersiapkannya dengan baik.

  Lebih lanjut Yahya bin Abi Katsir, dalam buku yang sama, menyebutkan secara gamblang isi doa yang mereka lantunkan, “Ya Allah, anugerahkan aku kesehatan hingga berjumpa Ramadhan. Sehatkan aku selama Ramadhan; dan terimalah ibadahku ketika Ramadhan.”

  Sebelum Ramadhan, mereka telah menyiapkan diri secara baik dengan berdoa, tekad kuat, berpuasa di bulan Sya’ban, membiasakan diri dengan ibadah-ibadah unggulan, dan yang tak kalah penting, mereka sangat antusias dalam menyambutnya.

  Saat Ramadhan tiba, salah satu kebiasaan unik nabi adalah begitu antusias menyampaikan kabar gembira mengenai kedatangan tamu spesial: Ramadhan, kepada para sahabat-sahabatnya (HR. Ahmad). Wallahu a’lam.(*)