Muhammad Shobirin - Raih Kesuksesan Dengan Memuliakan Al-Qur’an

Muhammad Shobirin - Raih Kesuksesan Dengan Memuliakan Al-Qur’an

Menjadi yatim piatu bukanlah rintangan dalam meraih kesuksesan. Justru ini menjadi motivasi guna menjadi orang yang mandiri. Inilah yang dirasakan oleh Muhammad Shobirin. Sejak usia 6 tahun ayah dan ibunya meninggal dunia. Bapak meninggal akibat tersengat listrik. lalu, 100 harinya bapak, ibu jatuh sakit, tak lama setelah itu dipanggil oleh Allah SWT.  “Bagi saya, itu merupakan musibah terberat dalam hidup saya,” kenang pemuda kelahiran 21 Januari 1993.

Lantas, semenjak saat itu ia bersama kakak dan adiknya diasuh oleh sang paman. Saat hidup bersama pamannya, Shobirin harus bisa mandiri. Apalagi kondisi ekonomi yang kekurangan, membuat Shobirin tidak bisa menikmati masa kecilnya. Ia harus membantu pamannya berjualan cilok. Hal tersebut dilakukannya selepas lulus dari sekolah dasar. “Saya sempat masuk SMP, tapi cuma 2 bulan, karena paman saya tidak sanggup membiayai sekolah. Akhirnya saya membantu paman jualan cilok keliling selama 2 tahun,” katanya.

Melihat kondisi pamannya yang harus bekerja keras mencukupi nafkah keluarga sang paman, Shobirin akhirnya memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren. Sehingga bisa sedikit mengurangi beban sang paman. “Saya akhirnya di Pondok Pesantren Mambaul Hisan di Kediri, sejak saat itu saya bisa kembali melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA,” ungkapnya.

Saat dipondok pesantren, Shobirin merasakan tamparan keras dalam hidupnya. Saat itu dia adalah yang tertua di kelas diniyah ponpes. Tapi dirinya tidak bisa mengaji sama sekali. “Saya merasa malu, teman-teman saya kebanyakan masih SD kelas 3 dan 4 dan sudah bisa baca Al-Qur’an. Sedangkan saya hanya baru bisa menghafalkan huruf Hijayyah saja,” ujarnya.

Saat itu saya berpikir, saya belum terlambat untuk belajar membaca Al-Qur’an, Lanjutnya, Lantas ia niatkan untuk mulai belajar, dia meminta salah satu guru untuk membantunya. “Setiap hari saya belajar, mulai dari mengenal harokat bacaan, tajwid, dan cara pengucapannya, dan Alhamdulillah saya bisa. Dan selang beberapa tahun, saya diminta untuk guru untuk belajar membaca Al-Qur’an.” sambungnya.

Saat ia menyelesaikan pendidikan di SMAN 6 Kediri, Shobirin ingin mengabdi di menjadi guru ngaji di pondok pesantrennya tersebut. Namun, seorang pengurus pondok meminta ia untuk ikut daftar kuliah gratis di Mandiri Enterpreneur Center (MEC) binaan Yatim Mandiri. Akhirnya ia mengikuti tes seleksi pendaftaran MEC di kantor layanan Yatim Mandiri Kediri. “Alhamdulillah saya bisa diterima di MEC di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ),” ucapnya.

Suasana yang sama seperti di pondok dirasakan olehnya saat pertama kali mengikuti kegiatan di MEC. Namun semuanya berbeda saat ia harus melaksanakan enterpreneur. Dirinya sempat bingung, untuk apa enterpreneur jika semua kebutuhan di asrama telah di penuhi oleh pihak MEC. “Saya sadar, ternyata enterpreneur bukan sekedar berjualan semata. Banyak sekali pengalaman yang saya temukan, dan ada manfaatnya,” tegas Shobirin.

Selepas menyelesaikan pendidikan di MEC, lantas shobirin bekerja di Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah. Awalnya dia disana bekerja dibagian pergudangan. Disamping bekerja di Nurul Falah, Shobirin juga menjadi guru ngaji di TPQ Al Mubarak Karangrejo Sawah, Surabaya. “Setelah pulang kerja di Nurul Falah, saya langsung ke TPQ untuk ngajar ngaji. Biasanya sampai jam 20.00 wib. Selain di TPQ, saya juga menjadi guru ngaji privat untuk para lansia di ketintang. Biasanya setiap senin sampai jumat jam 06.30 sampai jam 07.30 WIB,” terangnya.

Meskipun hanya menjadi guru ngaji, dan bekerja sebagai karyawan pria kelahiran Blitar, 21 Januari 1993 ini sangat menikmatinya. Tidak pernah merasa kekurangan. Seakan dirinya merasakan berkah rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Baginya bekerja yang berkaitan tentang memuliakan Al-Qur’an akan dijamin. Dan kini hal itu dirasakannya. “Meskipun tak seberapa besar penghasilan saya, tapi saya merasa terjamin dan dicukupi. Alhamdulillah bisa berbagi rezeki kepada keluarga dirumah, membantu teman yang sedang membutuhkan,” katanya.

Jerih payah Shobirin yang dilakukan dulu, kini terasa dibalas oleh Allah SWT. Shobirin memuliakan Al-Qur’an dan hidupnya dimuliakan pula oleh Allah SWT. Segala rencana yang dulu pernah dia inginkan, sedikit demi sedikit telah diraih. Masih tersisa beberapa keinginan yang belum terwujud. Dan dia ingin mewujudkannya, yakni bisa pergi ke tanah suci bersama keluarganya. Semoga doa-doanya didengar oleh Allah dan dikabulkan. Aamiin.(*)