Mewujudkan Kepedulian Sosial di Hari Yang Suci

Mewujudkan Kepedulian Sosial di Hari Yang Suci

(Oleh: Drs. Usman Daud, MA) - Firman Allah SWT, “Fabiayyi alaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan.” (“Dan nikmat Tuhanmu yang manakah kamu berdua (jin dan manusia) dustakan?”)

Inilah salah satu pertanyaan  besar yang harus kita sama-sama menjawabnya. Nikmat dalam diri atau nikmatul fitri, atau diluar diri yaitu nikmatul ‘aradhi  patut untuk disyukuri dan disebarkan agar ia akan tumbuh dan berkembang. Ketika ayat ini diturunkan, Nabi berkata, “Saya mendengar Jin lebih baik jawabannya daripada kamu, Mereka bertanya, ”Bagaimana jawaban Jin ya Rasul?” Rasul berkata, “Jawaban Jin adalah, ”laa bisyai-in min ni’ami rabbina nukadzdzibu” (Tiada sesuatupun dari nikmat-nikmatMu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan (ingkari)).” Maka manusia pun berkata kepada Allah seperti itu. Demikian keterangan Imam Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas.

Setiap datang bulan Ramadhan, sambutan gegap gempita terasa hangat disetiap tempat, setiap umat ingin mendapat yang terbaik di bulan ini. Rezeki yang halal dan berkah, kesehatan dan usia yang berkah, pahala berlipat, dosa keguguran bagai daun-daun kering yang jatuh dari pohon. Alangkah nikmatnya suasana puasa di bulan Ramadhan sampai datangnya Idul Fitri, semua ingin terbaik yang diperoleh maupun yang diberikan. (QS. ad-Dhuha: 11) 

Menikmati suasana Idul Fitri hari ini, rasa gembira dan bahagia adalah merupakan hasil perjuangan melaksanakan tugas suci di bulan Ramadhan.Yang bobot kegembiraan dan kebahagiaan tergantung pada kemenangan yang diperoleh.Yang diukur dari wujud kepatuhan dan ketaatan kita kepada Allah yang berkaitan erat dengan kualitas puasa di siang hari dan ibadah dzikir di malam hari.

Alangkah nikmatnya suasana kehidupan yang dialami manusia di dunia setiap datangnya hari raya. Semua serempak menjadi dermawan membagi harta dan senyumnya, setiap orang berlomba dalam memberi maaf tanpa diminta, yang nampak dan terasa adalah tidak ada dendam yang tersisa, semuanya pupus dan terhapus, luluh dan tuntas.

Model kehidupan seperti inilah sesungguhnya merupakan kebutuhan yang paling mendesak pada abad ini, sebuah kehidupan yang dilandasi oleh cinta dan pengorbanan, dihiasi oleh saling pengertian yang dipadati oleh rasa kasih sayang yang tulus dan penuh ikhlas. Senyum yang manis, sapaan yang mesra penuh harapan, tatapan mata yang tulus  dan bersahabat dari setiap jiwa yang lahir tanpa paksaan dan ancaman.

Persis seperti itulah kehidupan yang ditawarkan oleh Islam kepada dunia yang memang sangat membutuhkannya. Kehidupan yang tidak dihiasi dengan rasa curiga dan buruk sangka, kehidupan yang tidak didasari oleh rasa dendam dan permusuhan, kehidupan yang tidak diwarnai oleh rasa saling sengketa dan perselisihan yang berkepanjangan tanpa henti-hentinya. Model kehidupan masyarakat Islam seperti inilah sesungguhnya menjadi cita-cita dan dambaan kerinduan perjuangan umat Islam selama ini.(QS. Yunus: 25-26)

Itulah sebabnya jauh-jauh hari kita diminta oleh Allah SWT untuk melakukan tiga hal penting paling mendasar untuk mewujudkan kepedulian sosial dengan firmanNya, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuha: 9-11)

Kalau ketiga hal ini tidak dilaksanakan akan terjadi keresahan, yang suatu ketika akan muncul ke permukaan sebagai ledakan yang mengagetkan semua pihak. Perintah Allah tersebut adalah untuk meredakan keresahan yang menjadi ancaman bagi keamanan dan kestabilan masyarakat, umat bangsa, dan negara.

Berbagi dengan anak yatim, orang fakir, dan orang miskin adalah suatu yang sangat membahagiakan di momen Idul Fitri, menyambut hangat seruan kaum dhuafa adalah sesuatu yang mulia di momen seperti itu. Maka pemberdayaan umat perlu adanya distribusi nikmat Tuhan, agar nikmat itu tidak berada ditangan orang kaya saja. Wallau a’lam.(*)