Zakat Fitrah Dari Beras Zakat Fitrah Yang Diterima

Zakat Fitrah Dari Beras Zakat Fitrah Yang Diterima
29 Juli 2013 10:19:43 | Arsip

Assalamu’alaikum wr. wb.

Yth Prof Faishal Haq. Saya mau bertanya. Begini Ustadz. Seumpama tetangga saya mau mengeluarkan zakat fitrah di masjid dengan memakai beras yang sudah dia terima dari zakat fitrah orang lain. Jadi tetangga saya itu tidak membeli beras terlebih dahulu di toko. Pertanyaan saya:
1. Bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?
2. Apa alasan kebolehan atau ketidakbolehannya?
Demikian pertanyaan saya dan terima kasih atas jawabannya.

Wassalam,
Ainur Rofiah

Jawaban Prof Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Ibu Ainur Rofiah yang saya hormati, kewajiban mengeluarkan zakat fitrah berbeda dengan kewajiban mengeluarkan zakat maal (harta). Zakat maal diwajibkan kepada kaum muslimin yang mempunyai kelebihan harta senisob (sekitar tiga puluh empat juta rupiah, ini untuk harta milik yang berupa emas atau uang kertas) dan sudah dimiliki selama satu tahun. Sedangkan zakat fitrah diwajibkan kepada kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang sudah dewasa maupun yang masih kecil, yang mempunyai kelebihan makanan untuk siang dan malam hari raya ‘Idul Fitri, sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits: “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah dari bulan Ramadlan sebanyak satu sukatan (sekitar 2,5 kg) kurma atau satu sukatan gandum (beras) atas hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra). Perbedaan kedua antara zakat maal dan zakat fitrah, bahwa zakat maal diwajibkan kepada orang yang sudah dianggap kaya, sedangkan zakat fitrah diwajibkan kepada orang-orang yang mempunyai kelebihan makanan di siang dan malam hari raya ‘Idul Fitri, jadi tidak harus kaya, orang miskin pun bisa kena kewajiban zakat fitrah ini, selama ia mempunyai kelebihan makanan (beras) pada siang dan malam hari raya.

Oleh karena itu, zakat fitrah sering kali juga disebut dengan istilah zakatun nafsi (jiwa) dan zakatul abdan (badan/diri). Ketika seseorang masuk kategori mustahiq zakat (orang yang berhak menerima zakat), yaitu 8 golongan (ashnaf), kemudian ia diberi beras zakat, maka beras itu sudah menjadi miliknya. Kemudian jika ia mau mengeluarkan zakat fitrah dari beras miliknya, walaupun tadinya dari beras zakat orang, maka sah-sah saja. Delapan golongan itu dijelaskan dalam surah at-Taubah (9) ayat 60: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu\'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Ibu Ainur Rofiah, dari keterangan tersebut di atas jelaslah bahwa zakat fitrah yang dikeluarkan oleh tetangga Ibu itu hukumnya boleh atau sah menurut agama walaupun tetangga Ibu tidak beli beras itu di toko.