Hurriyyah Dan Kematian Ego Manusia

Hurriyyah Dan Kematian  Ego Manusia

(Oleh: Drs. Usman Daud, M. A.) -  “Dan kami tebus (bebaskan) anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan yang besar”. QS. As-Shaffat : 107.

Inilah kalimat yang diturunkan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan isyarat kepada Nabi-Nya (Ibrahim As) untuk membebaskan seorang anak dari kepasrahan yang tak terhingga, sebagai sebuah lambang kepatuhan,  pembebasan, dan kematian akan ego yang berorientasi pada keinginan yang rendah (duniawi). Simbol-simbol dalam kehidupan sosial dan spiritual bermuara pada penyerahan diri dan kepasrahan tanpa batas.

Hurriyyah : membebaskan atau memerdekakan. Kebebasan atau kemerdekaan merupakan salah satu hak asasi manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan merupakan salah satu ajaran dasar yang dibawa oleh Islam. Kesan terpenting dari makna ini adalah Islam menghormati setiap hak asasi yang dibawa manusia, bagaimana manusia saling mencederai sementara dia lahir dalam keadaan bebas dan merdeka. Nilai-nilai Rahmatan lil ‘Alamiin terekam jelas dalam risalah kenabian dan keummatan yang sukses mengantarkan manusia menuju kepada sebuah kebebasan yang abadi.

Kebebasan yang diajarkan oleh Islam mencakup berbagai aspek kehidupan; mulai dari kebebasan berfikir, kebebasan berbicara dan berpendapat, bebas dari kekurangan dan kemelaratan, bebas dari perbudakan dan penjajahan, dan bebas dalam memeluk suatu agama yang biasa disebut dengan kebebasan beragama. Inilah hakikat dari hurriyyah yang patut untuk disandang oleh manusia.

Demikian juga hurriyyah dalam konteks pendekatan diri kepada Allah yang diaplikasikan dalam wujud pengorbanan. Orang yang yang berkurban pasti merasa akan ada sesuatu yang hilang pada dirinya yaitu berupa kehilangan materi, tetapi pada hakikatnya materi yang terasa hilang itu dia akan tersimpan disisi Allah sebagai sebuah amal shalih yang bernilai tinggi yang dalam wacana sufistik formal disebut al-Baaqiyaatus Shaalihatun, (amal yang shalih lagi kekal).

 Tampaknya, momentum Idul Qurban sampai saat ini masih menuntut kita untuk benar-benar berkorban. Artinya, berkorban bukan lagi sekadar memenuhi panggilan syari’at, tetapi karena kondisi nyata ummat yang masih dihadapkan pada situasi yang memprihatinkan, maka perlu direnungkan kembali, bahkan harus dicari makna dan nilai-nilai qurban yang hakiki. Syari’at qurban diadopsi dari Nabi Ibrahim. Di masa itu masyarakat bercorak pastoralis, karena itu pemahaman syari’at (fiqhiyah) tersebut terkesan bahwa ibadah qurban hanya merupakan ekspresi sikap determinan ubudiyah yang dianjurkan bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan materi. 

Qurban terkesan hanya rutininitas ibadah tahunan. Bahkan terkesan pula sekedar acara pesta pora daging yang dibungkus ritualistik dan rutinitas ubudiyah belaka. Pemaknaan dan pemahaman yang cenderung literalis-dogmatis ini akan membuat teks qurban menjadi kedaluwarsa dan kenyataannya kurang memberi motivasi kuat bagi setiap muslim untuk memenuhi panggilan berqurban. Padahal secara hermeneutis, ketetapan Tuhan tentang qurban (QS Al Kautsar 1-2) memiliki arti transformatif saat dibaca dengan referensi setting personal, sosio-kultural dan berbagai konteks hidup dan kehidupan umat.