Hukum Vaksin MR (Measles Rubella)

Hukum Vaksin MR (Measles Rubella)

Assalamu’alaikum Wr. Wb, Profesor Faishal Haq yang saya hormati. Saya ingin bertanya tentang Vaksin MR (Measles Rubella). Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang penggunaan Vaksin MR. Pada Fatwa MUI No. 33 tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari Serum Institute of Indonesia untuk Imunisasi yang menyatakan haram. Tapi ada poin yang memperbolehkan dan hukumnya menjadi mubah, karena alasan keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah).

Yang ingin saya tanyakan adalah :

1.  Apakah dalam kasus ini, termasuk kasus yang darurat?

2.  Bagaimana batasan dlarurat syar’iyyah Vaksin MR?

3.  Apa yang sebaiknya saya lakukan, apakah harus mengikuti imunisasi Vaksin MR atau menolaknya?

Indah Yani - Jember

Wa’alaikumusalam Wr. Wb.

Orang sakit harus berobat, sebab Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Berobatlah kalian semua, karena Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya, kecuali sakit ketuaan” (HR Ahmad dari Zaid bin Syuraik), tetapi harus ada keyakinan bahwa Allah-lah yang menyembuhkan segala penyakit itu, sebagaimana yang dinyatakan dalam surah asy-Syu’ara’ (26): 80 “Dan apabila aku (Nabi Ibrahim) sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku.”

Begitu juga jika ada berita dari orang-orang yang berkompeten dalam masalah kesehatan bahwa di Indonesia akan terjangkit wabah campak yang sangat membahayakan, maka kita harus  imunisasi, antara lain suntik imunisasi vaksin Measles Rubella (MR).

Majlis Ulama Indonesia (MUI) dalam Fatwanya Nomor 33 Tahun 2018 menyatakan bahwa penggunaan vaksin dari Serum Institute of India (SII) haram karena dalam pembuatannya ada unsur babinya, tetapi menjadi boleh jika dalam keadaan dlarurat syar’iyyah, sebagaimana larangan makan bangkai, darah, daging babi dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, tetapi dalam keadaan terpaksa (dlarurat), maka tidak dosa makan makanan yang dilarang tersebut, seperti yang tercantum dalam surah al-Baqarah (2) ayat 173.

Dalam Kaidah Hukum Islam juga disebutkan bahwa: “Ad-Dlaruratu Tubihul Mahdhurat”, yang artinya: “Dalam keadaan terpaksa (dlarurat), kita diperbolehkan melakukan hal-hal yang dilarang”. Dan Kaidah lain yang menyatakan: “Taghayyurul Ahkam bi Taghayyuril Azminati wal Amkinati wal Ahwal”, yang artinya: “Perubahan hukum bisa terjadi karena perubahan waktu, tempat atau keadaan”.

Wabah campak yang diperkirakan akan terjadi di Indonesia ini harus dihindari dengan cara imunisasi. Dan vaksin yang ada sekarang adalah vaksin Measles Rubella (MR), maka selama tidak ada vaksin lain yang halal, maka penggunaan vaksin MR termasuk kategori dlarurat.

Batasan dlarurat adalah jika keadaan itu tak bisa dihindari dan jika tidak, maka akan terjadi sesuatu yang fatal. Dalam ayat 173 surah al-Baqarah tersebut di atas, Allah menyatakan tidak dosa atau tidak dilarang. Oleh karena itu, kita ikuti saja.