Hukum Puasa Tanpa Sahur

Hukum Puasa Tanpa Sahur

Assalammualiakum Wr. Wb.

Ustad Abdurrahman Navis yang saya hormati. Puji syukur, Alhamdulillah, kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan kita semua untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Pada puasa hari-hari pertama, banyak teman kuliah saya yang menjalankan puasa tanpa makan sahur, dikarenakan bangun kesiangan.

Yang saya ingin tanyakan adalah :

1.  Bagaimana hukum orang berpuasa tanpa melaksanakan sahur?

2.  Apakah Imsyak merupakan batas akhir untuk melaksanakan sahur?

Demikian, atas jawaban dan bimbingan Ustad Abdurrahman Navis, saya sampaikan terima kasih.

Anwari

Mojokerto 

Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarkatuh. Pak Anwari yang saya hormati. Baiklah kami jawab pertanyaan Anda,

1.  Puasa tanpa makan sahur itu tetap sah, karena hukum makan sahur itu sunnah tidak wajib. Hal ini sesuai penjelasan berikut ini. Sahur merupakan sunnah yang muakkad bagi yang berpuasa dengan dasar: Perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk itu sebagaimana hadits yang terdahulu dan juga sabda beliau, “Bersahurlah karena dalam sahur terdapat berkah.”

Larangan beliau dari meninggalkannya sebagaimana hadits Abu Sa’id  yang berbunyi: “Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur.” Oleh karena itu, al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary (3/139) menukilkan ijmak atas kesunahannya.

Dengan demikian jelaslah, orang yang tidak sahur baik untuk puasa wajib ramadhan ataupun puasa-puasa sunnah tidak membuat tidak sahnya puasa. Hanya saja kehilangan keutamaan dan keberkahan makan sahur.  Pak Anwari. Jadi kalau temanmu ada yang puasa tapi tidak sahur, teruskan pauasanya, tidak usah dbatalkan, tapi harus niat di malam hari karen niat itu yang wajib. 

2.  Imsak itu bukan akhir makan, tapi persiapan agar tidak kelewatan, karena batas puasa itu sejak terbitnya fajar sampai Maghrib.

Batas Akhir Makan Sahur dan Waktu Mulai Bershaum, Bid’ahnya Imsyak.

Allah SWT berfirman,“Makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitamg, yaitu waktu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Al-Imam Al-Bukhari membawakan bab khusus untuk ayat ini dalam rangka menerangkan batas akhir dibolehkannya makan sahur dan dimulainya ash-shaum. Kemudian beliau menyebutkan hadits Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika turunnya ayat saya mencari tali hitam dan tali putih, saya letakkan di bawah bantal, kemudian saya mengamatinya di malam hari dan tidak nampak. Keesokan harinya saya menghadap Rasulullah SAW dan saya ceritakan kepadanya, kemudian beliau berkata,“Yang dimaksud dengannya adalah gelapnya malam dan terangnya siang.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah SAW menafsirkan maksud ‘benang putih’ dan ‘benang hitam’ dengan kegelapan malam dan cahaya siang, tidak seperti yang disangka oleh Adi bin Hatim dan beberapa sahabat lainya.

Pak Anwari. Semoga kita semua dapat rahmat Allah. Aamiin.(*)