Hukum Asuransi dan Zakatnya

Hukum Asuransi dan Zakatnya
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat Prof Faishal Haq. Saya mohon penjelasan mengenai HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM dan zakatnya asuransi. Pertanyaannya adalah:

1.  Apakah HUKUMNYA ASURANSI itu sebenarnya di dalam Islam?

2.  Bolehkah kita mengikuti asuransi tersebut?

3.  Sekarang ada asuransi syariah. Apakah dengan adanya asuransi syariah tersebut, kita DILARANG mengikuti asuransi konvensional?

4.  Lalu dimana letak perbedaan hukumnya sebenarnya antara asuransi konvensional dan asuransi syariah tersebut?

5.  Dan, apakah asuransi termasuk dalam kategori harta yang wajib dizakati? Bagaimana zakatnya asuransi tersebut?

Demikian pertanyaan dari saya, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Prof Faishal Haq.

Wassalam,

Bu Sari.-

Jawaban Prof Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Bu Sari yang saya hormati, dalam kitab fiqih klasik, Asuransi itu dikenal dengan istilah “Kafalah”, yaitu: Jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga, untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dan al-Qur’an menyinggung kata-kata “Kafalah” ini dalam Surah Ali Imran (3) ayat 37: “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakariyya sebagai pemeliharanya (penanggungnya)…”.

Jika Asuransi diartikan sebagai penjamin atau penanggung atas apa yang akan terjadi pada diri orang yang ditanggung dengan keharusan orang yang ditanggung membayar premi setiap bulannya, di sana ada unsur tolong menolongnya, maka Islam memperbolehkan, karena Islam menyuruh kita saling tolong menolong, seperti yang terdapat dalam surah al-Maidah (5) ayat 2: “… Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaanNya”.

Pada perkembangan hukum selanjutnya, dana yang terkumpul dari pembayaran premi disalurkan dengan sistem bunga yang menurut sebagian fuqaha’ (pakar hukum Islam) dihukumi riba (haram) dan sebagian yang lain menyatakan “boleh” karena masih tergolong “hajat” (kebutuhan mendesak) yang dalam Kaidah Hukum Islam dinyatakan bahwa “Hajat itu sama dengan dlarurat, dalam hal diperbolehkannya melakukan sesuatu yang tadinya dilarang”.

Oleh karena itu muncullah apa yang disebut dengan “Asuransi Syari’ah” dan “Asuransi Konvensional”. Bedanya, dalam Asuransi Syari’ah, dana yang terkumpul disalurkan dalam akad Mudlarabah, yaitu akad kerja sama bagi hasil antara pemilik modal (shahibul maal) dengan pengelola (mudlarib). Sedangkan dalam Asuransi Konvensional, dana yang terkumpul dikembangkan dengan sistem bunga yang menurut sebagian fuqaha’ dinyatakan riba.

Jika orang yang ikut asuransi mengikuti pendapat yang memperbolehkan, apalagi asuransinya adalah asuransi syari’ah, maka ketika pembayaran preminya sudah mencapai senisob, yaitu sudah mencapai 35 (tiga puluh lima) juta rupiah, maka ia harus mengeluarkan zakat maalnya (harta simpanannya) sebesar 2,5 %.