Hidup Adalah Ujian, Maka Bersabarlah!

Hidup Adalah Ujian, Maka Bersabarlah!

(Oleh: Oki Aryono) - Baru kali ini Laurence Brown, seorang dokter yang bertugas di rumah sakit (RS) militer AS merasa lemah tak berdaya. Sambil menangis di sebuah ruang kecil di RS, dia berdoa, “Oh Tuhan, jika Engkau memang ada tolonglah aku dan tuntunlah aku.” Brown yang selama ini mengaku ateis ‘terpaksa’ berdoa kehadirat Zat yang selama ini tak ia yakini sama sekali. Putrinya yang baru saja lahir beberapa jam sebelumnya mengalami kelainan pembuluh darah . Tubuhnya membiru.

  Bagi dokter seperti Brown, ia paham apa artinya itu. Tapi untuk yang tidak, melihat urat-urat ditangan berwarna biru. Alasannya adalah ketika darah membawa oksigen, maka warnanya merah. Ketika darah tidak membawa oksigen maka warnanya berubah biru dan seperti itulah warna tubuh anaknya.

  Ketika pihak RS melakukan Cardiac Ultrasound dan ternyata bayi itu mengalami penyempitan pembuluh darah. Sedangkan pembuluh darah adalah alat transportasi utama yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Dan penyempitan pembuluh darah, adalah mengecilnya jalur pembuluh darah.

  Brown paham, hampir pasti anak ini harus menjalani operasi bedah jantung. Dokter akan membedah jantungnya, menggantikan pembuluh darahnya dengan sebuah graft (saluran buatan) dan anak ini sedang sekarat. Berdasarkan teknologi saat itu (1990), jika bayi itu menjalani operasi, ada peluang berhasil walau hanya sampai beberapa tahun. Lalu ia harus menjalani operasi lagi untuk mengganti graft-nya seiring dia tumbuh dewasa. Dan pada akhirnya graft itu tidak akan mampu lagi menyokongnya sehingga dia akan mati. 

  Dan itulah kecemasan Brown waktu itu. Itu juga kecemasan rekan dokter di ICU yang menangani. Jadi, Brown memandangi bayi sedang sekarat karena kekurangan oksigen. Ia hanya mengamati dia perlahan-lahan mati.

  Saat itulah, seorang ateis mengaku tak berdaya di hadapan Allah yang Maha Agung. Tak lama kemudian, bayi itu kondisinya membaik tanpa operasi. Ia sembuh tanpa bantuan alat-alat medis. Ajaib. Maka, Brown memenuhi janjinya. Ia belajar berbagai agama. Hingga akhirnya menemukan bukti-bukti kebenaran dalam Islam. Lalu ia menjadi muslim dan pendakwah di tengah masyarakat AS. 

  Bagi penganut ateis manapun, bencana ataupun musibah (seperti yang dialami Brown) selalu dianggap tragedi. Mereka sering berkata, “Bagaimana mungkin tragedi ini terjadi dan kau masih menganggap Tuhan ada?” Padahal tidak semua kematian atau musibah itu dianggap tragedi bagi orang lain.

  Bagi mujahid yang berlaga di medan jihad, mati (syahid) adalah pintu masuk menuju surga. Banyak kisah di zaman Rasulullah SAW, bahwa para sahabat menjemput kematian seperti menyongsong tamu yang mulia. Bahkan aroma surga telah tercium.

  Begitu juga sakit, tidak selalu berarti bencana bagi sang pasien. Bagi muslim, sakit (jika dijalani dengan sabar), maka ia akan menjadi penghapus dosa. Allah SWT berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30)

  Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus-menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” (HR. Muslim)

  Dan dalam kehidupan dunia ini, orang-orang pilihan Tuhan-lah yang mengalami cobaan terbesar. Mereka direndahkan oleh kaumnya sendiri, disiksa, dibunuh, dan anak-anak mereka ada yang mati. Jadi kita harus mengerti bahwa hidup ini merupakan ujian. Hidup ini adalah tempat membuktikan apakah kita layak menerima hadiahnya dalam kehidupan akhirat. Surga itu diraih dengan usaha. Kita meraihnya lewat kesusahan, bukan dari kesenangan duniawi.

  Maka berbahagialah menjadi seorang mukmin. Semua keadaan hidupnya selalu baik. Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin,sesungguhnyasemua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, danjika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim).(*)