Etalase Keberadaban Sejarah Muharram

Etalase Keberadaban Sejarah Muharram

(Oleh :Drs. Usman Daud, MA) - Kata Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Abu ‘Amr ibn Al ‘Alaa berkata, Dinamakan bulan Muharram karena peperangan (jihad) diharamkan pada bulan tersebut”; jika saja jihad yang disyariatkan lalu hukumnya menjadi terlarang pada bulan tersebut, maka hal ini bermakna perbuatan-perbuatan yang secara asal telah dilarang oleh Allah Ta’ala memiliki penekanan pengharaman untuk lebih dihindari secara khusus pada bulan ini. Pada bulan ini, Allah melarang hambanya untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Seperti misalnya berperang, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Quraisy sebelum datangnya agama Islam.

Para ulama bersepakat bahwa keempat bulan haram tersebut memiliki keutamaan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain selain Ramadhan, namun demikian mereka berbeda pendapat, bulan apakah yang paling afdhal di antara keempat bulan haram yang ada? Imam Hasan Al Bashri rahimahulloh dan beberapa ulama lainnya berkata, “Sesungguhnya Allah telah memulai  waktu yang setahun dengan bulan haram (Muharram) lalu menutupnya juga dengan bulan haram (Dzulhijjah) dan tidak ada bulan dalam setahun setelah bulan Ramadhan yang lebih agung di sisi Allah melebihi bulan Muharram”.

Muharram mempunyai tradisi panjang sebagai bulan suci dalam Islam. Misalnya, pada 16 Muharram kiblat dialihkan dari Jerusalem ke Mekkah. Di kalangan Syi’ah, Muharram mempunyai makna khusus sebagai bulan ketika Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad dan Imam Syi’ah ketiga syahid. Pada tahun 81 H/680 M, di tempat yang disebut Karbala, salah satu tempat paling suci dalam ziarah kaum Syi’ah di Irak, 95 kilometer barat daya dari Bagdad di pinggir Sungai Eufrat, pasukan Yazid bin Muawiyah di bawah komado Ibnu Ziyad mengepung imam Husain dan rombongannya. Seluruh laki-laki dari keluarga Husain dibunuh kecuali putranya yang masih kecil, Ali Zainal ‘Abidin. Sementara itu, yang perempuan disuruh berjalan ke kota Damaskus tanpa mengenakan hijab. Bagi kaum Syi’ah, peristiwa ini mempunyai arti khusus sebagai momen kritis dalam sejarah Islam ketika rezim resmi Islam membantai satu-satunya cucu Nabi Muhammad SAW yang masih hidup, pada hari ‘Asyura, hari ke sepuluh dalam bulan Muharram atau dikenal dengan 10 Muharram 61 H/8 Oktober 680M.

Hari ‘Asyura dianggap oleh kaum Muslimin sebagai hari penuh berkah dan kegembiraan karena kejadian penting dan menyenangkan, seperti mendaratnya kapal Nabi Nuh di bukit al-Judi setelah terapung selama 7 hari 7 malam karena air bah yang merupakan azab yang diturunkan Allah SWT kepada kaumnya. Namun, persepsi ini berubah untuk selamanya  pada ‘Asyura 680 H ketika Husain, cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW secara dramatis dibunuh dalam pertempuran di padang Karbala, yang dipandang kedua cucu Nabi (Hasan dan Husain) dipercaya sebagai penerus garis keturunan melalui anak perempuannya, Fatimah dan keponakannnya Ali. Secara historis maupun sosio kultural, peristiwa ini berubah dari jalannya, terasa jalan yang dilalui sangat terjal dan berliku.

Sejak wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib (661 M) setelah mengendalikan kekhalifahan yang singkat dan bergejolak, dan kemudian diganti oleh putra sulungnya Hasan, dan mengundurkan diri,  karena menyadari kerapuhan dan kegentaran di kalangan pengikutnya menghadapi keunggulan kekuatan Muawiyah. Husain sulit menerima langkah kompromi yang ditempuh oleh saudaranya Hasan, dan menolak mengakui Muawiyah, yang selama masa kekuasaan yang berlangsung lama (661-680 M), Husain menghormati kesepakatan yang dibuat antara Hasan dan Khalifah Muawiyah. Salah satu ketentuan dalam kesepakatan tersebut adalah bahwa sepeninggalnya Muawiyah, khalifah akan dipilih melalui musyawarah atau menurut kaum Syi’ah Muawiyah akan menye-rahkannya kepada salah satu dari dua putra Ali.

Setelah Hasan wafat tahun 671 M, Muawiyah menunjuk putranya Yazid sebagai penggantinya. Yazid yang dikenal luas sebagai pemabuk dan suka mengumbar nafsu mengukuhkan kekuasaannya bertekad menumpas sejumlah kecil tokoh oposisi dengan segala cara. Tahun 680 M, Yazid memerintahkan gubernurnya di Madinah untuk mengambil sumpah setia dari setiap orang dan menghukum mati siapa saja yang menolaknya. Inilah warna dan wajah sejarah kita.