Bolehkah tanah wakaf dijual nadhir untuk wakaf pembangunan kampus kemandirian yatim

Bolehkah tanah wakaf dijual nadhir untuk wakaf pembangunan kampus kemandirian yatim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat Prof Faishal Haq. Saya mempunyai pertanyaan berkaitan dengan WAKAF.

Begini, Prof. Saya ingin mewakafkan tanah saya di sebuah daerah dekat tempat tinggal saya, Pasuruan, Jawa Timur. Tujuan saya agar daerah itu lebih baik dengan wakaf tanah saya itu. Mungkin tanah yang akan saya wakafkan itu digunakan untuk pembangunan masjid dan madrasah, biar banyak anak yang mengaji al-Qur’an dan belajar agama Islam.

Nah, oleh saya, tanah itu saya wakafkan ke LAZNAS YATIM MANDIRI. Namun, karena LAZNAS YATIM MANDIRI juga mempunyai program wakaf pembangunan kampus kemandirian untuk anak-anak yatim, maka LAZNAS YATIM MANDIRI berencana menjual tanah yang saya wakafkan itu agar hasil penjualannya bisa diikutkan program wakaf pembangunan kampus kemandirian untuk anak-anak yatim tersebut.

Prof. Faishal Haq yang saya hormati, pertanyaannya adalah:

Bolehkah tanah saya yang saya wakafkan kepada LAZNAS YATIM MANDIRI itu dijual dengan tujuan agar bisa diikutkan dalam PROGRAM WAKAF PEMBANGUNAN KAMPUS KEMANDIRIAN?

Atau, bolehkah LAZNAS YATIM MANDIRI menjual tanah yang saya wakafkan itu dengan tujuan agar bisa diikutkan dalam PROGRAM WAKAF PEMBANGUNAN KAMPUS KEMANDIRIAN YATIM?

Demikian pertanyaan dari saya, dan sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Prof.  Faishal Haq.

Wassalam,

Kholis, Pasuruan.-

Jawaban Prof. Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.Pak Kholis di Pasuruan yang saya hormati, pada dasarnya harta benda yang telah diwakafkan dilarang dijual, ditukar dan lain sebagainya, sesuai dengan bunyi Undang-Undang Wakaf Nomor 41 Tahun 2004 pasal 40 bahwa harta benda wakaf yang sudah diwakafkan dilarang: a. Dijadikan jaminan; b. Disita; c. Dihibahkan; d. Dijual; e. Diwariskan; f. Ditukar atau g. Dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.

Ketentuan ini sesuai dengan pemaknaan yang tercantum dalam hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Ibnu Umar bahwa Nabi pernah menyarankan kepada Umar bin al-Khattab: “Jika kamu mau tahanlah dzat barangnya, kemudian kamu shadaqahkan hasilnya”. Ini terjadi setelah turun ayat 92 surah Ali Imran yang artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

Tetapi pada pasal berikutnya, yaitu pasal 41 menyatakan: Kecuali apabila harta benda wakaf yang telah diwakafkan digunakan untuk kepentingan umum, maka boleh dijual, ditukar dan lain sebagainya, asalkan diganti dengan yang lebih baik, paling tidak sama dengan harta wakaf yang dijual atau ditukar itu. Sebagaimana bunyi pasal 41 ayat (3): “Harta benda wakaf yang sudah diubah statusnya karena ketentuan pengecualian, wajib ditukar dengan harta benda yang manfaat dan nilai tukar sekurang-kurangnya sama dengan harta benda wakaf semula”.

Oleh karena itu, wakaf yang Bapak berikan ke LAZNAS Yatim Mandiri, kemudian dijual dengan tujuan agar bisa diikutkan dalam program wakaf pembangunan Kampus Kemandirian sudah tepat dan jika pembangunan selesai dan gedung itu ditempati kuliah, maka harta benda wakaf Bapak akan menjadi “Shadaqatin Jariyah” dan sekaligus menjadi penyebab “Ilmin Yuntafa’u bih”.