Bolehkah Pasrah Wali Lewat Telepon?

Bolehkah Pasrah Wali Lewat Telepon?

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Yth. Prof Faishal Haq. Saya ingin bertanya mengenai pasrah wali lewat telepon. Ceritanya begini, Prof. Saya seorang gadis mau menikah. Nah, yang akan menjadi wali itu adalah adik laki-laki saya karena ayah sudah meninggal dunia. Entah mengapa, adik saya tiba-tiba tidak mau menjadi wali pernikahan saya. Maaf, dia mungkin sedikit kurang percaya diri.

Saya mencoba bertanya kepada teman saya. Yang saya tanyakan adalah bolehkah saya memakai wali hakim dalam hal ini KUA. Teman saya menjawab bahwa boleh memakai wali hakim KUA tapi harus didahului oleh pasrah wali dari adik saya tadi. Nah, karena adik saya itu kurang percaya diri, maka saya tanya kepada teman saya apakah boleh lewat telepon pasrah walinya.

Nah, yang saya tanyakan, Prof:

1.  Bolehkah saya memakai wali hakim dalam hal ini KUA?

2.  Bolehkah pasrah wali itu lewat telepon?

Demikian pertanyaan saya, Prof Faishal Haq. Saya mohon penjelasannya. Terima kasih atas penjelasan yang diberikan.

Wassalam,

Titi.-

Jawaban Prof Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Mbak Titi yang saya hormati, semua perbuatan hukum dalam Islam membutuhkan syarat rukun termasuk dalam hal ini akad perkawinan. Akad perkawinan dalam Islam harus memenuhi 4 (empat) rukun, yaitu: Adanya calon mempelai laki-laki dan wanita; wali dari pihak calon mempelai wanita; 2 (dua) orang saksi laki-laki yang adil, dan ijab qabul (serah terima) dari wali ke calon mempelai laki-laki.

Ketentuan tersebut di atas dijelaskan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 221: ”Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. Dan dalam surah at-Thalaq (65) ayat 2: “... dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah ...”.

Dan sabda Nabi SAW: “Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang adil” (HR Ahmad dari Abi Musa al-Asy’ari). Dan di antara wali yang paling dekat kepada calon kemanten wanita adalah ayah kandung atau saudara kandung.

Ketika ayah kandung sudah meninggal dunia, maka kedudukannya dapat digantikan oleh saudara kandung. Dan saudara kandung dapat mewakilkan kepada siapa saja, termasuk juga kepada petugas Kantor Urusan Agama (KUA).

Pasrah taukil (wakil) wali ke KUA, boleh dilakukan di kantor KUA, boleh sebelum pelaksanaan akad dan boleh juga lewat telepon, karena saudara kandung calon kemanten wanita kurang percaya diri di hadapan orang banyak, umpamanya. Jadi pasrah taukil wali lewat telepon boleh-boleh saja, terutama jika yang bersangkutan merasa kurang percaya diri. Kalau tidak, sebaiknya pasrah taukil wali itu langsung, dari adik calon kemanten wanita ke petugas KUA.