Bolehkah kas mushalla untuk bangun jalan blok dekat mushalla?

Bolehkah kas mushalla untuk bangun jalan blok dekat mushalla?

BOLEHKAH KAS MUSHALLA UNTUK BANGUN JALAN BLOK DEKAT MUSHALLA?

Assalamualaikum Wr. Wb. Yang terhormat Prof. Faishal Haq. Saya ingin bertanya. Saya ini diamanahi sebagai Ketua Takmir Mushalla di perumahan tempat tinggal saya. Ada suatu pertanyaan atau bahkan permintaan dari warga perumahan tempat tinggal saya. Yaitu mereka ingin atau usul agar jalan blok dekat mushalla itu dibangun dengan menggunakan uang kas mushalla. Pembangunan jalan blok dekat mushalla itu penting agar akses ke mushalla itu gampang.

Nah, pertanyaan saya: BOLEHKAH KAS MUSHALLA DIGUNAKAN UNTUK BANGUN JALAN BLOK DEKAT MUSHALLA?

Demikian pertanyaan saya dan terima kasih atas jawaban Prof. Faishal Haq.

Wassalam,

Pak Halim

Gresik.-

Jawaban Prof. Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Pak Halim yang saya hormati, uang kas mushalla istilah lainnya adalah shadaqah jariyah, bahkan secara umum istilahnya adalah wakaf. Uang kas mushalla ada 2 macam, yaitu: Khusus dan Umum. Untuk yang khusus maka tidak boleh dimanfaatkan lainnya, selain dari mushalla tersebut, sebab ada sebagian ulama yang berpegang dengan kaidah “Syartul Wakif Kannassi”, Syarat yang telah ditentukan oleh wakif, kekuatannya sama dengan kekuatan nash, berarti tidak boleh digunakan yang lain, karena hal itu juga terkait dengan amanah yang harus dilaksanakan, seperti yang tercantum dalam surah an-Nisa’ (4) ayat 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...”.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf pasal 40 berbunyi: “Harta benda wakaf yang sudah diwakafkan dilarang: a. Dijadikan jaminan; b. Disita; c. Dihibahkan; d. Dijual; e. Diwariskan; f. Ditukar; atau g. Dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.

Sedangkan uang kas mushalla yang umum, boleh dimanfaatkan secara umum, asalkan tidak terlalu jauh dari kebutuhan mushalla itu sendiri, seperti untuk membangun jalan menuju ke mushalla itu, berarti “Boleh”. Imam Ahmad bin Hanbal memberikan komentar bahwa jika manfaatnya lebih besar, maka perbuatan itu lebih baik, karena pada dasarnya manusia membutuhkan hal-hal yang bermanfaat, sebagaimana yang dinyatakan dalam surah ar-Ra’du (13) ayat 17: “ ... Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.

Jika terjadi dua pendapat, maka ambillah yang lebih maslahat (yang lebih banyak manfaatnya), sebagaimana yang dijelaskan dalam surah an-Nisa’ (4) ayat 59: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.