BOLEHKAH ISTRI MENGAQIQAHI SUAMI YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA?

BOLEHKAH ISTRI MENGAQIQAHI SUAMI YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA?

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Yang terhormat Prof Faishal Haq, saya ingin bertanya mengenai aqiqah untuk suami yang sudah meninggal dunia.

Begini ceritanya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa aqiqah itu kan disunnahkan atau diutamakan untuk dilaksanakan bagi yang mampu (membeli kambing misalnya atau mengadakan aqiqah). Dan, aqiqah itu boleh dilaksanakan sampai seseorang sudah dewasa atau tua, karena memang mampunya waktu dewasa atau tua.

Nah, ini, orangnya sudah meninggal dunia tapi belum aqiqah. Lalu, sang istri ingin mengaqiqahi suaminya yang belum aqiqah itu tapi kedahuluan dipanggil oleh Allah SWT (wafat).

Nah, pertanyaan saya, Prof:

1.  Bolehkah seorang istri mengaqiqahi suaminya yang sudah meninggal dunia itu, meskipun suaminya tidak nazar?

2.  Mana yang harus didahulukan, Prof, untuk orang yang sudah meninggal dunia itu: aqiqah atau qurban, Prof? Termasuk hal ini, seorang istri yang ingin mengaqiqahi suaminya yang sudah meninggal dunia tadi. Karena, ini kan mendekati Hari Raya Qurban.

Demikian pertanyaan saya, Prof. Semoga jawaban Prof. Faishal Haq mengenai hal ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Wassalam,

Imam Suwandi

Kediri.-

Jawaban Prof. Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Bapak Imam Suwandi dari Kediri yang saya hormati, seorang istri boleh mengaqiqahi suaminya yang sudah meninggal dunia, walaupun suami tidak bernadzar, karena antara suami istri masih ada hubungan saling memberikan manfaat. Begitulah menurut sebagian Fuqaha’, mereka berdasar dengan ayat 22-24 surah ar-Ra’du (13): “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhan-nya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik); (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu”.

Tetapi sebagian yang lain menyatakan bahwa perbuatan istri itu tidak sampai pada suaminya, karena manusia hanya memperoleh apa yang ia kerjakan. Mereka berdasar pada ayat 38-41 surah an-Najm (53): “(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain; Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya; Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya); Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”.

Penyembelihan binatang kurban hanya terbatas 4 hari saja, yaitu hari raya Adha dan tiga hari sesudahnya yaitu hari Tasyriq, sebagaimana yang dijelaskan dalam surah al-Hajj (22) ayat 28: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (hari raya Haji dan hari Tasyriq, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir”.

Sedangkan menyembelih Aqiqah waktunya longgar, maka sebaiknya yang didahulukan adalah menyembelih binatang kurban.