Berkumpul Setelah Minta Cerai?

Berkumpul Setelah Minta Cerai?

Pertanyaan

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Yang terhormat Prof Faishal Haq, saya ingin bertanya mengenai hukumnya berkumpul dengan suami setelah saya minta cerai. Ceritanya begini, Prof. Suatu saat, saya mengetahui suami saya “main perempuan” atau selingkuh dengan wanita lain. Begitu saya mengetahui perbuatan jelek suami saya itu, saya langsung emosi dan minta cerai. Herannya, suami saya mengiyakan. “Ya, terserah kamu. Yang penting kamu tidak boleh membawa anak kita!” kata suami saya tegas.

Selang sebulan, saya dan suami saya saling menyadari kesalahan masing-masing. Sampai akhirnya kami berdua melakukan hubungan suami-istri.

Nah, pertanyaan saya:

1.  Apakah tindakan saya minta cerai kepada suami dan suami pasrah begitu saja itu sudah termasuk talak, Prof?

2.  Bagaimana hukumnya dengan hubungan suami-istri yang kami lakukan? Boleh atau tidak?

Demikian pertanyaan saya Ustadz, semoga jawaban atau penjelasan Ustadz mengenai hal ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Wassalam,

Dari seorang ibu rumah tangga.-

Jawaban Prof Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Ibu, talak itu hak mutlak para suami, sebagaimana yang diterangkan dalam surah at-Thalaq (65) ayat 1: “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertaqwalah kepada Allah Tuhanmu…”. Dan juga diterangkan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 228: “Wanita-wanita yang dithalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (suci atau haid)…”. Dua ayat tersebut sama-sama menyatakan bahwa yang menthalaq adalah “suami”.

Sedangkan istri diberi 2 (dua) hak oleh Allah, yaitu “Fasakh” (gugat cerai tanpa mengembalikan sesuatu) dan “Khulu’” (gugat cerai dengan mengembalikan sesuatu pada suaminya), sebagaimana yang dijelaskan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 229: “Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu, boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya…”.

Oleh karena itu, jika istri yang minta cerai pada suami, dan suami hanya merelakannya, maka perceraian itu belum terjadi dan keluarga itu masih berstatus sebagai suami-istri. Jika mereka berhubungan badan, maka hukumnya tidak dosa, walaupun demikian istri jangan sering-sering minta cerai. Pikir lebih dahulu sebelum mengucap. Semoga keluarga Ibu dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, sebagaimana yang tercantum dalam surah ar-Rum (30) ayat 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.