Berbagi di Hari Fitri

Berbagi di Hari Fitri

(Oleh: Moh. Isom Mudin) - Pada hari yang fitri, berbahagia menjadi suatu kebutuhan bahkan mendekati keharusan. Di hari pertama, orang Islam malah bisa berdosa jika berpuasa. Rasulullah pernah membelikan baju baru anak kecil yang murung karena berpakaian lusuh, ayahnya Syahid dan Ibunya menikah lagi tidak perduli. Seorang sahabat Umar yang terkenal keras pernah terisak-isak melihat anak kecil berpakaian lusuh, karena takut ia tidak bahagia sebagaimana teman-temanya. Maka, sangat indah jika bisa berbagai di hari yang Fitri.

Siapapun yang mampu mengeluarkan hartanya, maka ia bisa dikategorikan orang yang menang. Ungkapan kemenangan dalam bahasa arab adalah ‘fauz’, sang pemenang adalah ‘Faiz’. Dalam Al-Quran, kata menang ini ternyata berlaku untuk dua orang; penghuni surga (ashhabu Jannah Humul Faiziun) (QS. al-Hasysr: 20) dan orang yang dijauhkan dari neraka (Faman Zuhziha Anin Nar….Faqad Faza) (QS. Ali Imran: 185). 

Kebalikannya, orang yang kalah adalah ahli neraka. Lantas, apa yang mereka katakan di sana?  “Wahai Tuhanku, seandainya ajal ku ditunda sebentar saja, aku ingin bersedekah..” (QS. Al-Munafiqun: 10).

Ternyata, orang yang kalah itu ingin menjadi pemenang dengan memperbanyak bersedekah. Harapan ini muncul karena kedahsayatan infak baru tampak. Maka, lafadz “Minal Ai`dzin wal Faizin” yang bermakna doa semoga kita menjadi bagian orang yang kembali suci dan kelompok pemenang bisa terealisasi jika kita terus bersedekah.

Berbagi di hari raya memang mempunyai keistimewaan tersendiri, khususnya pada malam takbir atau saat menjelang Shalat Ied. Kesimpulan ini tentu tidak berlebihan. Dalam hukum fikih, perintah Allah hanya ditujukan kepada laki-laki dan perempuan yang sudah pada waktunya, hal ini biasa disebut “khithab taklif”  yang ditandai dengan ‘Akil Baligh’. Lain halnya dengan Zakat Fitrah, bayi yang baru lahir setelah terbenamnya matahari malam syawaal wajib dikelurkan zakatnya.

Begitu juga dari aspek kapan dikeluarkanya zakat wajib tersebut. Secara hitam putih fikih, seseorang memang boleh mengeluarkan infak wajib itu semenjak Ramadhan. Anehnya, walau dalam bulan Ramadhan pahala sedekah berlipat-lipat, keutamaannya lebih besar jika zakat tersebut dikeluarkan saat malam Takbir hingga khatib naik ke atas mimbar. Nah, Dua kilo setengah adalah batas minimal yang wajib dikeluarkan. Bagi yang haus memperoleh gelar sang pemenang; “al-Faizun”, jumlah ini tidaklah seberapa.

Idul Fitri juga menjadi momentum untuk mencapai derajat “Muhsin”; pangkat tertinggi setelah muslim dan mukmin. Jika manusia sanggup berbuat baik dengan orang yang berbaik kepada dirinya, maka orang tersebut biasa disebut “adil”. Namun, jika  ada yang sanggup bersenyum ria dan bertutur sapa dengan orang yang berbuat jahat kepadanya, maka dia disebut “Ihsan”. Pelakunya adalah muhsin.

Ada tiga kriteria ‘muhsin’ dalam Al-Quran yang termaktub dalam tradisi “halal bil halal” ala Indonesia. Tiga hal itu adalah berinfak di kala lapang atau sulit, mampu menahan amarah, memaafkan orang yang bersalah. Dalam tradisi “halal bil halal” orang miskin pun berlomba untuk sedekah. Semua orang berwajah ceria tanpa amarah, bersalam-salaman dan memaafkan. Bahkan, saudara selain Islam pun terbawa dan ikut-ikutan. Semua terbungkus dalam tradisi. Maka, Berbahagia di hari yang fitri adalah keindahan dalam Islam dan seluruh alam.

Namun hanya satu makhluk yang sangat susah. Susah karena semua bahagia menjadi pemenang. Marah kerena  melihat dosa terampuni dan kebaikan yang membajiri. Murka karena banyak yang bersedekah. Dia adalah Iblis.(*)