Bagaimana Status Hukum Gaji Pegawai Bank?

Bagaimana Status Hukum Gaji Pegawai Bank?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat Prof Faishal Haq. Saya mempunyai pertanyaan berkaitan dengan gaji pegawai bank (konvensional). Sebagaimana kita ketahui bersama, riba itu kan dilarang atau haram dalam Islam. Dan sebagian kalangan berpendapat bahwa bunga bank itu termasuk riba. Dari kenyataan hukum tersebut, maka pertanyaannya adalah:

1.  Apa hukumnya gaji pegawai bank konvensional?

2.  Dan apa pula hukumnya bekerja di bank konvensional?

Demikian pertanyaan dari saya, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Prof Faishal Haq.

Wassalam,

Pak Fasih.- 

Jawaban Prof Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Bapak Fasih yang saya hormati, gaji seseorang itu terkait dengan pekerjaan yang ia lakukan. Jika pekerjaan itu dinyatakan haram, maka gajinya juga haram. Salah satu pekerjaan yang haram adalah pekerjaan yang mengandung unsur riba, seperti hutang Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) harus mengembalikan Rp. 12.000.000,- (duabelas juta rupiah), maka yang dua juta rupiah itulah yang riba, seperti pernyataan Allah dalam surah al-Baqarah (2) ayat 275: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …”.

Bekerja di Bank Konvensional begitu juga gajinya, menurut sebagian fuqaha’ (pakar hukum Islam) adalah haram, karena menggunakan sistem bunga dan bunga menurut mereka adalah riba. Mereka berdasar pada ayat 275 surah al-Baqarah (2) yang menyatakan bahwa riba adalah haram dan ayat 130 surah Ali Imran (3): “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. Dalam Kaidah Hukum Islam dinyatakan bahwa “pada dasarnya larangan itu menunjukkan hukum haram, kecuali ada dalil yang merubahnya”. Karena ayat tersebut melarang kita makan riba, maka hukum makan riba adalah haram.

Sebagian fuqaha’ berpendapat bahwa gaji pegawai bank konfensional adalah syubhat (semu antara haram dan halal), karena kegiatan yang ada di bank tersebut ada unsur Mudlarabahnya yang dihalalkan oleh Islam, tetapi juga ada unsur ribanya, karena menggunakan sistem bunga. Dan Islam melarang mencampuradukkan sesuatu, sebagaimana larangan yang terdapat pada ayat 42 surah al-Baqarah (2): “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui”.

Tetapi sebagian fuqaha’ yang lain menyatakan bahwa kegiatan di bank konvensional itu masuk kategori “Hajat” (keperluan yang mendesak), oleh karena itu menurut pendapat yang ketiga ini “Boleh”. Dalam Kaidah Hukum Islam dinyatakan bahwa hajat (keperluan yang mendesak) itu sama dengan dlarurat. Dalam keadaan dlarurat, sesuatu yang tadinya dilarang menjadi boleh. Al-Qur’an menyatakan: “… Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Menurut pendapat ketiga ini bekerja dan gajinya adalah halal.