Apakah Sekolah Wajib Mengeluarkan Zakat Maal?

Apakah Sekolah Wajib Mengeluarkan Zakat Maal?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat Prof. Faishal Haq. Saya mohon penjelasan mengenai zakat maal. Begini, Prof. Ada seseorang punya sekolahan. Nah sekolah itu adalah milik yayasan. Kaitannya dengan kewajiban mengeluarkan zakat harta atau maal, orang itu bertanya seperti ini. Pertanyaannya adalah:

1.  Apakah sekolah itu wajib mengeluarkan zakat maal atau yayasannya yang wajib mengeluarkan zakat?

2.  Ikut zakat maal yang mana? Apakah zakat perusahaan?

3.  Bagaimanakah cara perhitungan zakatnya?

Demikian pertanyaan dari saya, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Prof. Faishal Haq.

Wassalam,

Farida
Surabaya.-


Jawaban
Prof Faishal Haq

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Ibu Farida di Surabaya yang saya hormati, zakat itu diwajibkan kepada orang Islam yang sudah dewasa dan berakal sehat yang dalam istilah Hukum Islam (Fiqh) disebut dengan “Mukallaf” (orang yang dikenai beban hukum) yang mempunyai kelebihan harta minimal (nisob) Rp. 42.500.000,- (empat puluh dua juta lima ratus ribu rupiah) disamakan dengan 85 gram emas.

Dalam perkembangan hukum berikutnya bahwa Badan Usaha milik orang Islam disamakan dengan orang mukallaf, dalam pengertian bahwa ia dikenai zakat jika mempunyai kekayaan sejumlah empat puluh dua juta lima ratus ribu rupiah ke atas dan dikembangkan.

Jika sekolahan berbadan usaha, maka yang kena zakat adalah sekolahannya, tetapi jika yang berbadan usaha adalah yayasannya, maka yayasannyalah yang kena zakat.

Dalam fiqih klasik dijelaskan bahwa barang perdagangan termasuk salah satu harta yang dikenai zakat. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Baihaqi dari Samurah bin Jundub bahwa Nabi pernah menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang yang kami siapkan untuk perdagangan”.

Berdasarkan hadis tersebut di atas, maka sekolahan atau yayasan yang berbadan usaha yang sudah berjalan satu tahun dan kekayaannya sudah mencapai senisob, maka semuanya ditaksir ada berapa miliar, lalu dikeluarkan zakatnya 2,5 % atas nama zakat perdagangan atau usaha.

Adapun barang mati atau yang tidak berkembang seperti gedung sekolahan, kantor, meja kursi dan lain sebagainya tidak ikut ditaksir.

Allah dalam ayat 276 surah al-Baqarah menyatakan bahwa harta yang ditunaikan zakatnya, akan disuburkan atau dikembangkan. Dan pada ayat 103 surah at-Taubah, Allah menyatakan bahwa harta yang dizakati akan bersih dari hak-hak orang fakir-miskin dan mensucikan dari sifat kikir.